Lagu “Tapi” Perunggu: antara Rantau dan Rumah
- 21 Apr 2026 13:30 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Perunggu, band rock alternatif asal Indonesia yang dikenal dengan lirik-lirik reflektif dan dekat dengan kehidupan anak muda, kembali menarik perhatian lewat karya di album kedua mereka yang bertajuk “Dalam Dinamika”. Album ini memperlihatkan perkembangan musikal dan penulisan lirik yang lebih matang, dengan tema besar seputar perjalanan hidup, perubahan, dan konflik batin manusia modern.
Salah satu lagu yang menonjol dalam album tersebut adalah “Tapi”. Lagu ini menghadirkan narasi personal tentang seseorang yang berada di fase transisi besar dalam hidupnya, yakni meninggalkan kota asal untuk memulai kehidupan baru di Jakarta.
Melalui lirik yang sederhana namun emosional, Perunggu berhasil menangkap rasa ragu, keterikatan pada rumah, hingga proses pendewasaan yang tidak selalu nyaman.
“Besok lusa aku ke Jakarta
Memulai lagi semuanya di sana
Kakak bilang siap-siap saja
Membatin kuingin semua batal juga”.
Bagian awal lirik menggambarkan fase awal “ketidaksiapan mental” ketika seseorang dipaksa keluar dari zona nyaman. Kepergian ke Jakarta bukan hanya perpindahan tempat, tetapi juga simbol transisi identitas.
Ada benturan antara ekspektasi eksternal (keluarga dan lingkungan) dan emosi internal yang belum siap beradaptasi. Di sini terlihat bahwa perubahan hidup sering kali tidak datang dengan persetujuan penuh dari diri sendiri, melainkan situasi yang “harus dijalani”.
“Bandung masih memelukku erat
Sementara ku masih ingin lewat Bubat
Mungkin untuk terakhir kalinya
Atau mungkin minggu depan kupulang saja?”.
Lirik tersebut pada frasa kata “Bandung” bukan sekadar latar geografis, tapi representasi dari memori, rutinitas, dan rasa aman emosional. Ada keterikatan psikologis yang membuat proses “pergi” terasa seperti kehilangan sebagian diri sendiri.
Selian itu keraguan untuk berangkat menunjukkan fenomena emotional attachment, di mana seseorang sulit melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari identitas hidupnya.
“Tapi
Dunia boleh saja menahanku
Atau perlahan bongkar mimpiku
Dunia boleh saja menahanku
Kupunya doa Ibu”.
Pada bagian reff, lagu ini pun menunjukkan kontras besar antara tekanan eksternal dan kekuatan internal. “Dunia” di sini bisa dimaknai sebagai sistem sosial, realitas ekonomi, atau tantangan hidup yang tidak bisa dikontrol.
Sementara pada kata “doa Ibu” menjadi simbol dukungan afektif paling dasar yang memberi rasa aman psikologis. Ini menunjukkan bahwa ketahanan seseorang sering kali tidak lahir dari kekuatan diri semata, tetapi dari relasi emosional yang bermakna.
“Rupanya susah memang yang kucari
Tak bisa andalkan siapa-siapa lagi
Selain akal dan hati nurani
Selain sarapan porsi tukang gali”.
Pada lirik ini menggambarkan titik ketika seseorang benar-benar berhadapan dengan realitas kehidupan yang tidak lagi dapat ditopang oleh bantuan orang lain. Ia mulai menyadari bahwa dalam perjalanan hidupnya, ia harus mengandalkan diri sendiri, baik melalui logika maupun suara hati.
Bagian “Selain sarapan porsi tukang gali” dimaknai secara sebagai simbol kehidupan yang keras, di mana kebutuhan fisik dan tenaga menjadi besar, sementara kenyamanan menjadi hal yang tidak utama. Ini menunjukkan bahwa fase hidup yang dijalani tokoh bersifat lebih berat, sederhana, dan menuntut ketahanan fisik maupun mental.
“Dunia boleh saja melawanku
Kupunya doa Ibu”.
Lirik terakhir ini tidak menawarkan kemenangan dramatis, tetapi penerimaan yang tenang, Tokoh tidak lagi berusaha mengontrol dunia, melainkan menguatkan dirinya untuk bertahan di dalamnya. Ada perubahan dari resistensi menjadi acceptance, ini menunjukkan bahwa kedewasaan bukan tentang menghindari masalah, tetapi tentang kemampuan berdamai dengan ketidakpastian sambil tetap melangkah.
Bait ini adalah titik paling jujur dari seluruh lagu, setelah semua keraguan, tekanan, dan ketidakpastian, akhirnya tokoh punya satu “pegangan terakhir”: Ibu. “Doa ibu” di sini bukan cuma kalimat puitis, tapi simbol rasa aman yang paling sederhana tapi paling kuat.
Ketika dunia terasa keras, tidak adil, atau bikin lelah, tokoh tidak mencari solusi rumit, ia kembali ke sesuatu yang paling dasar: doa yang selalu ada, bahkan saat dia jauh dari rumah. Lagu bertajuk “Tapi” dari Perunggu dalam album “Dalam Dinamika” ini, jelas bukan hanya menggambarkan perjalanan perantauan, tetapi juga proses pendewasaan emosional.
Melalui lirik yang sederhana, lagu ini menampilkan realitas kehidupan yang penuh tekanan, keraguan, serta perjuangan, namun tetap memiliki satu titik pijak yang kuat, yaitu sosok ibu sebagai sumber ketenangan dan kekuatan batin. Lagu ini juga memberikan pesan bahwa setiap individu akan menghadapi fase hidup yang tidak mudah, terutama saat harus meninggalkan zona nyaman.
Namun, kekuatan untuk bertahan tidak selalu datang dari kondisi yang ideal, melainkan dari nilai-nilai yang telah ditanamkan sejak awal, termasuk doa dan dukungan keluarga.
(Febriana/UGJ Cirebon}
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....