Mengapa NPD Mudah Jadi Pemimpin?

  • 13 Apr 2026 09:10 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Fenomena munculnya sosok dengan gangguan kepribadian narsistik (NPD) di posisi kepemimpinan bukanlah hal baru. Sering kali, dalam proses seleksi atau wawancara, karakter ini justru terlihat lebih unggul dibandingkan kandidat lainnya.

Hal ini memicu pertanyaan besar: apa yang membuat mereka begitu mudah memikat hati para pengambil keputusan di awal perkenalan? Secara psikologis, individu dengan kecenderungan NPD memiliki kemampuan luar biasa dalam membangun kesan pertama.

Mereka hadir dengan kepercayaan diri yang meluap, postur yang meyakinkan, dan gaya bicara yang sangat tertata. Dalam durasi pertemuan yang singkat seperti wawancara kerja, pesona ini sering kali disalahartikan sebagai kompetensi kepemimpinan yang tinggi dan visi yang kuat.

Hal ini yang kemudian membuat kandidat yang diduga NPD mendapat perhatian lebih karena kepercayaan diri mereka sangat tinggi. Selain itu, mereka adalah pakar dalam mempromosikan diri sendiri.

Tanpa rasa ragu, mereka mampu menceritakan pencapaian dengan narasi yang sangat memukau, bahkan terkadang melebih-lebihkan peran mereka dalam sebuah kesuksesan. Bagi perusahaan yang sedang mencari sosok "penyelamat" atau pemimpin yang agresif, narasi seperti ini tentu terdengar sangat menggiurkan dan menjanjikan hasil instan.

Namun, ada perbedaan mendasar antara percaya diri yang sehat dengan narsisme klinis. Sebagaimana dikutip dari laman kesehatan mental Psychology Today yang sering merujuk pada standar kesehatan dunia, Dr. Ramani Durvasula, seorang pakar psikologi yang fokus pada topik narsisme, memberikan peringatan penting terkait hal ini dalam berbagai literatur kesehatan global.

"Narsisme sering kali 'terjual' sebagai kepemimpinan karena nampak seperti kepercayaan diri, padahal sebenarnya itu adalah bentuk rigiditas yang tidak memiliki empati," katanya. Kurangnya empati inilah yang sering kali tidak terdeteksi di awal seleksi.

Dalam proses wawancara konvensional, penilai cenderung fokus pada indikator kinerja teknis dan keberanian mengambil risiko. Padahal, kepemimpinan jangka panjang sangat membutuhkan kecerdasan emosional untuk mengayomi tim, sebuah aspek yang biasanya menjadi kelemahan utama bagi penderita NPD.

Dalam suasana kantor yang kasual, sosok ini mungkin terlihat sangat asik diajak berdiskusi di awal masa jabatan. Mereka sangat protektif terhadap citra diri, sehingga mereka akan berusaha terlihat sangat pintar dan dominan dalam setiap rapat.

Motivasi utama mereka bukanlah kesuksesan kolektif, melainkan pengakuan bahwa mereka adalah orang yang paling berjasa atas sebuah pencapaian. Masalah biasanya baru akan muncul ketika tim menghadapi krisis atau kegagalan.

Alih-alih mengevaluasi sistem, pemimpin dengan ciri NPD cenderung mencari kambing hitam untuk melindungi reputasi pribadinya. Hal inilah yang sering kali menyebabkan tingginya angka turnover atau pengunduran diri karyawan di bawah kepemimpinan mereka, karena suasana kerja menjadi sangat tidak sehat, dan disinilah masalah besar pada organisasi/perusahaan akan terlihat.

penting bagi setiap organisasi atau instansi untuk memperketat proses seleksi kepemimpinan dengan metode yang lebih mendalam. Melakukan pemeriksaan referensi kepada rekan kerja setingkat dan bawahan bisa menjadi kunci.

Dengan begitu, organisasi tidak hanya memilih pemimpin berdasarkan pesona sesaat, tetapi berdasarkan karakter yang mampu membawa dampak positif bagi semua orang.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....