Geliat MBG di Raksawacana, Kritik Pendidikan Mengalir lewat Teater
- 10 Apr 2026 16:32 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Kuningan – Pementasan bertajuk Negeri Tanpa Pertanyaan yang digelar kolektif Menu Budaya Gembira (MBG) di Gedung Kesenian Raksawacana, Jumat, 10 April 2026, berlangsung meriah. Puluhan penari tampil ritmis, menyatu dengan aktor teater dan pemusik dalam satu panggung kolaboratif yang menyuguhkan kritik terhadap sistem pendidikan.
Pertunjukan ini memadukan berbagai disiplin seni dalam satu narasi visual. Terinspirasi dari puisi Pelajaran Tata Bahasa dan Mengarang karya Taufiq Ismail, MBG mengolah teks sastra menjadi sajian pertunjukan yang komunikatif sekaligus menggugah.
Elemen seni tari menjadi salah satu kekuatan utama dalam pementasan tersebut. Gerak tubuh para penari tidak hanya menjadi pelengkap, melainkan simbol dari kekakuan sistem pendidikan yang diangkat dalam naskah. Koreografi yang dinamis dipadukan dengan dialog teaterikal dan ilustrasi musik yang digarap secara kolektif oleh komunitas lintas seni di Kabupaten Kuningan.
Pimpinan Produksi MBG, Bias Lintang Dialog, mengatakan proses kreatif pertunjukan ini melibatkan kolaborasi intens selama dua bulan.
“Ini adalah kerja bersama. Semua lini, mulai dari teater hingga tari, berkontribusi memberikan ide-ide brilian. Kami ingin audiens, terutama dari kalangan instansi pendidikan, bisa merasa relate dengan apa yang kami sajikan di atas panggung,” ujar Bias usai pementasan.
Ia menambahkan, nama “Menu Budaya Gembira” dipilih sebagai representasi filosofi bahwa seni merupakan kebutuhan penting bagi pembentukan jiwa.
“Kami hadir sebagai pelengkap. Di dalam tubuh yang sehat harus ada jiwa yang kuat, dan seni lewat tari, teater, dan musik ini adalah nutrisi untuk membentuk jiwa yang kuat itu, terutama bagi para siswa,” katanya.
Rangkaian pementasan Negeri Tanpa Pertanyaan dijadwalkan berlangsung hingga 26 April 2026 di Gedung Kesenian Raksawacana. Pertunjukan digelar setiap akhir pekan dengan tiga sesi dalam satu hari, yakni pukul 10.00 WIB, 14.00 WIB, dan 19.00 WIB.
Selain pementasan utama, panitia juga menyiapkan sesi diskusi singkat usai pertunjukan tertentu yang menghadirkan para pelaku seni dan penonton, sebagai ruang refleksi atas isu pendidikan yang diangkat dalam karya tersebut.
Antusiasme penonton pada hari pertama menjadi sinyal positif bagi keberlangsungan agenda ini. Penyelenggara berharap kehadiran publik, khususnya dari kalangan pelajar dan tenaga pendidik, dapat memperkaya dialog tentang pendidikan melalui pendekatan seni.
Melalui panggung Raksawacana, MBG menghadirkan kritik pendidikan dalam balutan estetika seni. Pesan yang disampaikan jelas: pendidikan seharusnya membebaskan, bukan menjadikan peserta didik sebagai bagian dari “negeri tanpa pertanyaan”.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....