Finansial Cermat, Ekonomi Selamat
- 02 Okt 2026 08:25 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon — Nurhayati (58), warga Cirendang, Kabupaten Kuningan, tak pernah menyangka uang puluhan juta rupiah dalam rekeningnya akan terkuras habis hanya dalam hitungan detik. Uang pensiunan dan hasil usahanya berjualan pupuk ludes tak bersisa.
Semua berawal dari panggilan telepon seseorang yang mengaku teman lamanya. Ia menceritakan bisnisnya di bidang jual-beli beko (alat berat excavator atau backhoe loader) dan meminta tolong ditransferkan sejumlah uang untuk menutupi kekurangan biaya pembelian beko terbarunya.
"Dengan gamblang dia langsung manggil nama saya saat menelepon. Sangat meyakinkan. Awalnya dia menawarkan join bisnis jual-beli beko, lalu beberapa hari kemudian minta ditransfer uang buat nutupin kekurangan pembelian bekonya. Dia janji akan mengganti. Entah kenapa saya tiba-tiba nurut omongannya, mentransfer via ATM. Uang 35 juta rupiah saya amblas…”
Kisah Nurhayati merupakan cerita klasik penipuan telephony scam (penipuan melalui telepon). Penipuan semacam ini kerap berulang menimpa warga di segala lapisan, tak hanya di pedesaan tapi juga warga perkotaan.
Modus kejahatan yang menimpa Nurhayati adalah contoh nyata dari risiko ekonomi digital. Secara spesifik, modus telepon ini dilakukan melalui manipulasi data pribadi (social engineering/phising), yaitu penipuan via telepon yang umumnya menguras saldo bukan dengan meretas sistem bank secara langsung, melainkan dengan memanipulasi psikologis korban. Pelaku seringkali berpura-pura mengaku sebagai orang dekat (teman sekolah atau saudara jauh) maupun bagian dari instansi resmi (bank, Dukcapil, atau OJK), dan akan mendesak korban untuk menyerahkan nomor kartu, PIN, atau kode OTP.
Fenomena inilah yang melatari argumentasi dan pesan dari Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon, H. Agus Muntholib, S.H., M.H., saat berbincang dalam talkshow Ekonomi Digital di RRI Cirebon, Jumat, 21 Agustus 2026. Kepada pendengar, sebuah alarm penting digaungkan: "Digital Makin Dekat, Finansial Harus Makin Cermat: Menangkap Peluang Ekonomi Digital, Menghindari Risikonya."
Inklusi dan Kejahatan Siber; Sebuah Paradoks
Berdasarkan data OJK Cirebon hingga pertengahan 2026, geliat digitalisasi di Ciayumajakuning sebagai wilayah penyangga Jawa Barat melesat tajam. Salah satu buktinya adalah pertumbuhan jumlah investor pasar modal (Single Investor Identification/SID) saat ini menyentuh angka 686 ribu investor, berkontribusi sekitar 12 persen terhadap total investor di Jawa Barat. Perputaran nilai transaksi saham bahkan melonjak hingga 120 persen secara tahunan.
Angka-angka ini merupakan potret optimisme. Inklusi keuangan— kondisi di mana setiap anggota masyarakat memiliki akses kemudahan terhadap produk dan layanan jasa keuangan formal yang aman, berkualitas, dan terjangkau sesuai kebutuhan mereka —meningkat cukup pesat berkat pemanfaatan teknologi digital.
Dalam dialog di RRI Cirebon, Agus Muntholib memaparkan bahwa masa depan perbankan di tengah ekonomi digital tidak lagi hanya bergantung pada kemampuan menghadirkan layanan canggih. "Keamanan menjadi aspek yang paling penting. Jika risiko kejahatan siber tidak diantisipasi dengan baik dari sisi penyedia layanan, serta masyarakat tidak cermat membentengi diri, kepercayaan publik terhadap layanan keuangan digital bisa menurun, dan aset warga terancam menguap," tambahnya.
Beberapa ancaman di ruang digital yang sering dihadapi masyarakat adalah maraknya investasi bodong dengan menawarkan imbal hasil yang tak masuk akal, pinjaman online (pinjol) ilegal, modus penipuan yang memanipulasi psikologi (scam dan phishing), hingga praktik judi online. Jika tidak diimbangi dengan manajemen risiko teknologi informasi yang baik dan kecermatan pengguna, transaksi real-time perbankan digital yang sangat cepat justru dapat melenyapkan aset warga dalam sekejap.
Strategi OJK Cirebon: Membumikan Edukasi
Menghadapi ancaman ini, OJK Cirebon di bawah komando Agus Muntholib tidak tinggal diam. Sadar bahwa pendekatan konvensional saja tidak cukup kuat dalam membentengi keamanan finansial jutaan warga, OJK Cirebon telah memformulakan strategi edukasi yang inklusif, adaptif, serta mampu menyentuh masyarakat lapisan terbawah.
Tiga pilar utama yang kini digerakkan oleh OJK Cirebon untuk menyeimbangkan peluang dan risiko digital adalah Digitalisasi Berbasis Komunitas Lokal (Desa EKI) di mana OJK Cirebon telah menetapkan lima lokus Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) di wilayah Ciayumajakuning. Mulai dari Desa Jagara di Kabupaten Kuningan hingga Kampung Nelayan di Desa Gebang Mekar Kabupaten Cirebon. Strategi ini adalah mengintegrasikan masyarakat desa dengan akses pembiayaan legal untuk memperkuat sektor produktif pariwisata dan UMKM, sekaligus membentengi mereka dari pinjol ilegal.
Kedua, Keterlibatan Generasi Muda (Jaka Rara Financial Academy). Menggandeng Pemerintah Kota Cirebon, OJK melatih para finalis Jaka Rara (kompetisi pemilihan duta pariwisata dan budaya tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Cirebon) menjadi Duta Literasi Keuangan. Anak-anak muda terpilih ini diterjunkan langsung ke kelurahan-kelurahan untuk mengedukasi warga dengan gaya bahasa yang sederhana dan relevan sehari-hari, alih-alih menggunakan bahasa regulasi yang kaku dan kurang dipahami warga.
Terakhir, diciptakannya edukasi sektoral berkelanjutan, program Kelas Literasi Keuangan (KELINGAN). Program ini menyasar aparatur negara dan guru. Melalui KELINGAN, ratusan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kota Cirebon dibekali peta mitigasi agar mampu membedakan entitas keuangan yang Legal dan Logis (L&L) dengan baik.
Barangkali kasus yang dialami Nurhayati tak perlu terjadi jika ‘kecermatan’ dijadikan sebagai kunci kehati-hatian. Dalam konteks ini, cermat artinya tidak boleh gampang tergiur rayuan "cepat kaya" secara instan. Sebelum mentransfer uang atau membagikan data pribadi, selalu pastikan penawarannya legal dan logis. Dan dalam konteks finansial secara umum, penting untuk menyadari bahwa teknologi keuangan digital seharusnya digunakan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan, bukan malah memicu sifat boros yang berujung pada kesengsaraan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....