Roda Becak Cirebon yang Makin Pelan: Kisah Kesetiaan di Tengah Arus Modernisasi

  • 01 Agt 2026 06:48 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Keberadaan becak sebagai salah satu transportasi tradisional perlahan mulai meredup, tak terkecuali di Kota Cirebon. Jika beberapa dekade lalu kendaraan roda tiga tak bermesin ini menjadi primadona warga untuk bepergian, kini pemandangannya sudah jauh berbeda.

Roda-roda becak yang dulunya sibuk menyusuri setiap sudut kota, saat ini lebih banyak terlihat terdiam di persimpangan atau pasar, menunggu penumpang yang jumlahnya kian menyusut. Tren penurunan jumlah becak yang beroperasi di Cirebon memang sudah mencapai tahap yang memprihatinkan.

Penurunan drastis ini dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup masyarakat dan masifnya perkembangan teknologi transportasi. Kemudahan proses kredit sepeda motor bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, serta menjamurnya layanan transportasi berbasis aplikasi, menjadi faktor utama yang membuat becak perlahan mulai ditinggalkan oleh pelanggan setianya.

Pergeseran zaman ini sangat dirasakan oleh Sanadi, seorang pria yang telah menggantungkan hidupnya dari mengayuh becak sejak tahun 1978. Menekuni profesi ini selama lebih dari empat dekade membuatnya paham betul masa kejayaan dan masa suram transportasi tersebut.

Menurut pengamatannya, titik balik penurunan penumpang mulai sangat terasa sejak rentang tahun 2010 hingga saat ini, bertepatan dengan era di mana kepemilikan kendaraan pribadi makin mudah dan hadirnya ojek berbasis aplikasi.

"Dulu penumpang ramai sekali," kenang Sanadi saat membandingkan kondisi saat ini dengan masa jayanya.

Ia menyadari dengan lapang dada bahwa pergeseran minat masyarakat adalah hal yang rasional dan sulit dihindari. Sanadi menuturkan, semenjak masyarakat mulai banyak yang memiliki sepeda motor pribadi dan hadirnya layanan ojek, orang-orang secara alami lebih memilih moda transportasi tersebut karena dianggap lebih praktis dan jauh lebih cepat sampai ke tempat tujuan.

Keluh kesah yang sama juga disuarakan oleh rekan seprofesinya, Kadina. Sebagai salah satu saksi hidup perkembangan tata kota, Kadina bahkan telah lebih dulu mengayuh becaknya sejak tahun 1968. Pria yang telah merasakan kerasnya aspal Cirebon selama lebih dari setengah abad ini mengamini sepenuhnya apa yang dirasakan oleh Sanadi mengenai kondisi penumpang yang kian sepi dari hari ke hari.

Di tengah gempuran zaman yang semakin modern dan serba cepat, para pengayuh transportasi tradisional ini harus beradaptasi agar dapur tetap mengepul. Kini, Kadina dan rekan-rekannya tak lagi bisa menargetkan penumpang umum yang bepergian jarak jauh atau sekadar berangkat ke sekolah.

"Sekarang sih kami cuma mengandalkan ibu-ibu yang pulang dari pasar saja karena mereka biasanya membawa banyak barang belanjaan, dan itu pun tidak terjadi setiap hari," kata Kadina.

Kisah Sanadi dan Kadina adalah potret nyata tentang bagaimana sebuah profesi perlahan tergerus oleh laju zaman. Meski pendapatan tak lagi menentu dan tenaga tak sekuat dulu, keduanya tetap setia berada di pangkalan, menjaga roda becak mereka agar terus berputar di jalanan Cirebon.

Kehadiran mereka di sudut-sudut kota kini bukan sekadar tentang mencari nafkah, melainkan juga tentang ketegaran bertahan di tengah arus modernisasi yang tak bisa dilawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....