Langgar Agung Keraton Kasepuhan, Simbol Akulturasi Jawa-Eropa

  • 28 Mei 2026 18:38 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Langgar Agung Keraton Kasepuhan Cirebon menjadi salah satu penanda perkembangan arsitektur keraton yang memperlihatkan perpaduan unsur Jawa dan pengaruh Eropa melalui bentuk bangunan berbahan kayu, dinding putih, serta struktur penyangga khas pada bagian tembok. Keberadaan bangunan ini menunjukkan perubahan fase pembangunan di lingkungan Keraton Kasepuhan.

Keraton Kasepuhan sendiri merupakan salah satu bangunan bersejarah di Kota Cirebon yang mengalami berbagai perkembangan dan perubahan fungsi bangunan seiring pergantian masa pemerintahan. Langgar Agung hadir sebagai bagian dari penambahan bangunan di lingkungan keraton pada fase berikutnya.

Wakil Kepala Pemandu Keraton Kasepuhan, Raden Nanung Muhammad Suradi, mengatakan Langgar Agung memiliki karakter berbeda dibanding Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang identik dengan bata merah dan material batu kuno. “Langgar Agung itu bisa kita lihat ciri-cirinya berbau atau berbentuk seperti bangunan rumah joglo asli Jawa, dan di situ tidak ada bangunan bata merahnya,” ujar Raden Nanung Muhammad Suradi kepada RRI, Kamis, 14 Mei 2026.

Menurutnya, sebagian besar struktur Langgar Agung menggunakan material kayu yang menunjukkan identitas kuat budaya lokal Cirebon sebagai daerah penghasil kayu jati pada masa lampau. Kayu tersebut bahkan pernah menjadi komoditas perdagangan penting yang ditukar dengan berbagai kebutuhan dari daerah lain.“Langgar Agung itu terdiri dari kayu-kayu, karena Cirebon dulu terkenal sebagai penghasil kayu jati hingga dijadikan komoditas perdagangan,” kata Raden Nanung Muhammad Suradi.

Selain unsur lokal, ia menjelaskan terdapat pengaruh arsitektur Eropa yang tampak pada warna putih bangunan dan bentuk tiang penyangga yang menyatu dengan dinding. Perpaduan tersebut menunjukkan adanya adaptasi budaya pada perkembangan arsitektur keraton.“Di Langgar Agung juga ada percampuran unsur Eropanya, di mana dinding-dindingnya itu sudah berwarna putih dan ada semacam tiang-tiang yang menopang tetapi menyatu dengan tembok,” ucap Raden Nanung Muhammad Suradi.

Keunikan arsitektur tersebut menjadikan Langgar Agung tidak hanya memiliki fungsi religius, tetapi juga bernilai historis sebagai representasi perkembangan budaya di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....