Makna Jinem Pangrawit di Keraton Kasepuhan Cirebon yang Bersejarah

  • 25 Mei 2026 13:49 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Keraton Kasepuhan yang terletak di Jalan Kasepuhan Nomor 43, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, masih menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang diminati wisatawan lokal maupun mancanegara. Setiap bagian bangunannya memiliki makna filosofis dengan kondisi bangunan yang masih terawat dan berdiri kokoh hingga saat ini.

Salah satu bangunan utama di area keraton ialah Jinem Pangrawit yang pada masa lalu memiliki peran penting sebagai tempat pejabat keraton menerima tamu kerajaan. Selain itu, bangunan tersebut juga digunakan sebagai lokasi penyampaian berbagai laporan penting dari sejumlah daerah yang kemudian ditindaklanjuti oleh pejabat keraton.

Di halaman depan Jinem Pangrawit terdapat taman atau kawasan Bundaran Dewandaru yang menjadi salah satu area pemercantik lingkungan keraton. Keberadaan taman tersebut turut menambah kesan asri dan bersejarah di kawasan Keraton Kasepuhan.

Wakil Kepala Pemandu Keraton Kasepuhan, Raden Nanung Muhammad Suradi menjelaskan, bangunan utama bagian depan diapit oleh dua bangunan lainnya yakni Sri Manganti dan Lunjuk. Menurutnya, kedua bangunan tersebut memiliki fungsi khusus dalam tata penerimaan tamu di lingkungan keraton.

“Nah, tampak juga di depan bangunan Jinem Pangrawit atau bangunan utama bagian depan itu diapit oleh dua bangunan sebelumnya. Ya, itu ada di sebelah timur itu ada Sri Manganti, itu tempat di mana para tamu itu menunggu antrean ketika dipanggil satu-satu itu ke hadapan pejabat-pejabat keraton di Jinem Pangrawit,” ujarnya kepada RRI, Kamis, 14 Mei 2026.

Ia menambahkan, bangunan Lunjuk yang berada di sebelah barat berasal dari kata “unjuk” yang berarti melayani tamu. Seluruh informasi dan kebutuhan tamu akan dilayani di bangunan tersebut sebelum diperkenankan masuk ke area utama keraton.

Warna-warna yang terdapat pada bangunan utama keraton juga memiliki makna simbolis tersendiri. Warna hijau melambangkan kesuburan, kuning melambangkan kemuliaan, merah melambangkan keberuntungan dan tradisi masyarakat adat, sedangkan putih menjadi simbol kemurnian ajaran Islam serta pengaruh budaya Eropa di Cirebon.

Perpaduan warna tersebut mencerminkan harmonisasi budaya Tionghoa, Nusantara, dan Islam yang hidup berdampingan di lingkungan Keraton Kasepuhan. Nilai sejarah dan budaya itulah yang hingga kini tetap dipertahankan oleh pihak keraton.

Salah satu pengunjung asal Kecamatan Gesik, Kabupaten Cirebon, Junaedi mengatakan Keraton Kasepuhan merupakan warisan sejarah penting bagi generasi muda. Menurutnya, keberadaan keraton dapat menjadi sarana edukasi untuk mengenalkan sejarah dan budaya leluhur Cirebon kepada anak-anak.

“Masih dijaga dengan baik oleh para abdi dalemnya, ya buat peninggalan anak cucu kita. Liburan, anak mau lihat-lihat sejarah Kota Cirebon,” katanya.

Saat ini, bangunan utama area keraton masih difungsikan sebagai tempat penyelenggaraan berbagai acara adat keraton sekaligus kediaman raja. Lokasi kediaman raja berada sejajar dengan Bangsal Panembahan dan ruang tengah Bangsal Prabayaksa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....