SD Sunyaragi Terapkan SFH Sabtu, Bagaimana Kesehatan Mental Siswa?

  • 15 Apr 2026 07:54 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, CIREBON – Dunia pendidikan terus bersalin rupa demi merespons keadaan global. Salah satu langkah berani diambil oleh SD Sunyaragi yang mulai memberlakukan kebijakan School From Home (SFH) setiap hari Sabtu. Namun, kebijakan ini membawa konsekuensi pada pergeseran jam sekolah di hari kerja yang menjadi lebih panjang, meski diimbangi dengan pola dua kali waktu istirahat.

Langkah ini diambil pihak sekolah bukan tanpa alasan. Penyesuaian terhadap kondisi geopolitik saat ini—yang berdampak pada mobilitas dan efisiensi energi—menjadi motor utama di balik perubahan jadwal belajar-mengajar.

Melihat dari Kacamata Kesejahteraan Mental Anak

Sebagai pengamat kesehatan mental anak, perubahan durasi sekolah adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, penambahan jam sekolah di hari kerja berisiko meningkatkan beban kognitif anak. Namun, penyisipan dua kali waktu istahat adalah langkah mitigasi yang cerdas.

Berikut adalah analisis plus dan minus dari kebijakan baru SD Sunyaragi:

Sisi Positif (Plus):

  • Restorasi Energi yang Lebih Baik: Dengan dua kali waktu istirahat, otak anak mendapatkan kesempatan untuk "reboot" lebih sering. Ini sangat krusial untuk menjaga fokus dan mencegah burnout di tengah durasi sekolah yang lebih lama.
  • Fleksibilitas Sabtu: SFH di hari Sabtu memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar di lingkungan yang lebih rileks. Ini bisa menurunkan level stres kompetisi yang biasanya dirasakan di dalam kelas fisik.
  • Kedekatan Keluarga: Secara tidak langsung, anak memiliki waktu lebih banyak di rumah pada akhir pekan, yang jika dikelola dengan baik, dapat meningkatkan kualitas hubungan emosional dengan orang tua.

Sisi Negatif (Minus):

  • Kelelahan Fisik di Hari Kerja: Pulang lebih sore dapat menguras energi fisik anak. Jika tidak dibarengi dengan pola tidur yang disiplin, anak berisiko mengalami penurunan daya tahan tubuh.
  • Distraksi saat SFH: Belajar di rumah pada hari Sabtu menuntut kemandirian tinggi. Tanpa pengawasan yang tepat, efektivitas belajar bisa menurun karena godaan gawai atau suasana rumah yang terlalu santai.

Suara dari Akar Rumput: Apa Kata Orang Tua?

Kebijakan ini memicu reaksi beragam dari para wali murid. Sebagian mengapresiasi langkah progresif sekolah, namun sebagian lainnya mengkhawatirkan manajemen waktu di rumah.

Ibu dita(29), salah satu orang tua siswa di SD Sunyaragi, memberikan pandangannya:

"Sejujurnya, awalnya saya agak khawatir melihat anak pulang lebih sore. Tapi setelah dijalani, adanya dua kali istirahat itu membantu anak saya nggak terlalu 'tepar' saat sampai di rumah. Yang paling terasa itu hari Sabtunya. Saya nggak perlu terburu-buru menyiapkan seragam dan bekal, dan kami bisa belajar bareng di rumah dengan suasana yang lebih santai. Tapi ya itu, PR-nya adalah memastikan dia benar-benar belajar, bukan cuma main game saat SFH."

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....