Gua Sunyaragi, Warisan Sejarah dan Spiritualitas Kota Cirebon

  • 07 Feb 2026 18:54 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Di kawasan Jalan Sunyaragi, Kota Cirebon, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang menyimpan jejak panjang peradaban masa lalu. 

Gua Sunyaragi bukan sekadar susunan batu karang yang artistik, melainkan ruang hidup yang dahulu menjadi taman kaputren, tempat bermain putra-putri bangsawan pada masa Kesunanan, Kapanembahan, hingga Kesultanan Cirebon.

Lebih dari fungsi rekreasi keluarga kerajaan, Gua Sunyaragi juga memiliki makna spiritual yang kuat. 

Pengelola Wisata Gua Sunyaragi, Jajat Sudrajat, menjelaskan bahwa kawasan ini pada masanya dimanfaatkan sebagai ruang perenungan dan pendekatan diri kepada Tuhan.

“Selain sebagai taman bermain putra-putri bangsawan, Gua Sunyaragi juga digunakan sebagai tempat itikaf atau berdiam diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan (Tawasul),” ujar Jajat Sudrajat, saat ditemui RRI pada Sabtu, 7 Februari 2026.

Nilai sejarah yang berpadu dengan spiritualitas itulah yang menjadikan Gua Sunyaragi memiliki keunikan tersendiri dibandingkan situs budaya lainnya. 

Setiap sudut batu karang dan lorong gua menyimpan cerita tentang kehidupan masa lalu yang sarat makna.

Dari sisi kunjungan wisata, pergerakan pengunjung Gua Sunyaragi cenderung fluktuatif. 

Menurut Jajat, peningkatan jumlah wisatawan biasanya mulai terlihat menjelang akhir pekan, terutama pada Jumat hingga Minggu, termasuk saat long weekend. 

Lonjakan yang lebih signifikan juga terjadi ketika libur nasional dan libur sekolah.

“Kalau hari hari biasa itu kita agak mulai signifikan jumat sabtu minggu dan long weekend, tapi kalo ada libur nasional atau libur sekolah ya agak lumayan lah peningkatanya," kata Jajat Sudrajat.

Ia mengungkapkan, sebelum pandemi Covid-19, tepatnya pada tahun 2018, Gua Sunyaragi sempat berada dalam masa keemasan dengan kunjungan yang terus meningkat. Namun, berbagai kebijakan pascapandemi turut berdampak pada aktivitas wisata, sehingga pemulihan belum sepenuhnya tercapai.

Meski dihadapkan pada tantangan tersebut, Jajat menegaskan tetap membuka diri terhadap berbagai bentuk kolaborasi. Komunitas, pemerhati budaya, hingga kelompok masyarakat yang ingin menggelar kegiatan di kawasan Gua Sunyaragi dipersilakan untuk bekerja sama selama sejalan dengan upaya pelestarian.

“Kami welcome kok, barangkali ada dari komunitas atau apa, kita siap memberikan fasilitas tentunya dengan persyaratan yang diberlakukan disini," ucapnya menuturkan.

Daya tarik Gua Sunyaragi juga dirasakan langsung oleh para pengunjung. Putri, salah satu wisatawan, menilai kawasan ini memiliki keistimewaan yang tidak ditemukan di tempat lain, terutama dari sisi arsitektur dan nilai sejarahnya.

 “Yang menarik itu arsitekturnya ya, bangunannya itu tidak kita temui ditempat lain karena punya ciri khas sendiri. Unik, estetik, yang pastinya punya nilai sejarahnya yang sangat tinggi," kata Putri.

Di tengah perubahan zaman dan bergesernya minat generasi, Gua Sunyaragi masih berdiri tegak, menunggu denyut kehidupan yang kembali mengisi setiap sudut batunya. Baik pengelola maupun pengunjung berharap kawasan ini terus dijaga dan dikembangkan tanpa menghilangkan nilai sejarah yang melekat.

Peningkatan fasilitas dan kenyamanan diharapkan dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian, agar Gua Sunyaragi tetap relevan, tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai pengingat bahwa sejarah bukan sekadar untuk dikenang, melainkan dirawat dan dihidupkan bersama oleh generasi masa kini dan mendatang.

Rekomendasi Berita