Kreatif, Warga Karangkamulyan Pajang Pahlawan di Lorong Kemerdekaan
- 16 Agt 2025 16:30 WIB
- Cirebon
KBRN, Kuningan : Suasana Desa Karangkamulyan, Kecamatan Ciawigebang, terasa berbeda sejak memasuki bulan Agustus 2025. Menjelang Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, hampir setiap sudut desa ini menjelma menjadi panggung kreativitas warganya.
Di Dusun Cimulya, sepanjang jalan desa sejauh 850 meter dihiasi beragam ornamen kemerdekaan. Pemandangan paling mencuri perhatian adalah lorong merah putih sepanjang 400 meter.
Terbuat dari rentangan kain merah dan putih yang dipasang menyerupai atap, lorong ini kian memesona saat malam tiba ketika lampu-lampu warna-warni dinyalakan. Seolah-olah para pengunjung sedang melewati terowongan kemerdekaan yang penuh semangat.
Perayaan HUT ke-80 RI di Karangkamulyan bukan sekadar formalitas. Setiap hiasan, setiap kain yang dipasang, hingga tiap tetes keringat gotong royong, seakan menegaskan kemerdekaan bukan hanya milik masa lalu, tapi hidup dalam kebersamaan hari ini.
“Awalnya kami hanya lihat ide serupa di media sosial. Lalu muncul keinginan untuk membuat di dusun kami. Ternyata bisa terwujud dengan gotong royong,” tutur Denis Sudirman, pemuda penggagas lorong merah putih Cimulya. Sabtu (16/8/2025).
Tak jauh dari lorong, berdiri megah gerbang bambu bertuliskan ucapan selamat datang di Dusun Cimulya. Di atasnya, replika Garuda Pancasila lengkap dengan pedang di tangan kanan tampak gagah mengawal jalan desa. Sementara bendera merah putih berkibar anggun di puncaknya.
Menurut Denis, semua itu lahir dari keringat warga sendiri. “Sejak November tahun lalu, kami sudah menabung sukarela. Jadi bukan hanya untuk Agustusan, tapi juga kegiatan besar lain, termasuk hari-hari keagamaan,” ujarnya.
Warga pun terlihat bangga. Anak-anak berlarian di bawah lorong kain, sementara para orang tua duduk di pinggir jalan sambil mengagumi karya pemuda desa. “Rasanya dusun kami jadi terkenal. Banyak orang dari luar desa datang hanya untuk foto di sini,” celetuk salah seorang ibu sambil tertawa kecil.
Semangat yang sama juga terasa di Dusun Cilembu. Begitu melewati pintu gerbang, jalan sepanjang 200 meter langsung menyambut dengan cat warna-warni. Kiri-kanan jalan dipenuhi umbul-umbul dan bendera merah putih yang berkibar riang.
Tokoh masyarakat setempat, H. Udin Safrudin—akrab disapa Kebo Bule—menyebut semarak Agustusan ini bagian dari kebersamaan warga. “Kami ingin setiap kegiatan membuat warga bahagia. Itulah semangat kemerdekaan yang sebenarnya,” ujarnya.
Senada dengan itu, tokoh masyarakat lainnya, H. Ucup Akang Gaya, menambahkan bahwa hiasan yang dibuat warga adalah bentuk penghormatan untuk para pejuang bangsa. “Kami di Cilembu ingin menunjukkan bahwa kemerdekaan dirayakan bukan hanya dengan upacara, tapi dengan karya nyata dan kegembiraan,” ucapnya.
Tak berhenti di jalan utama, setiap gang RT di Cilembu pun punya tema hiasan berbeda-beda. Dari gapura unik hingga lampion sederhana yang dibuat anak-anak. Semua hasil gotong royong, semua dilakukan dengan hati.
Dusun Pasir Tengah pun tak mau ketinggalan. Warga di sana kompak membuat lorong merah putih sepanjang 200 meter. Keguyuban mereka makin terasa ketika Kepala Desa Karangkamulyan, Yayat Supriyatna yang ikut turun langsung memimpin persiapan.
“Kalau warga bersatu, hasilnya bisa luar biasa. Saya sendiri ikut membantu pemasangan kain dan gapura supaya semua merasa memiliki,” ujarnya.
Seorang pemuda Pasir Tengah pun tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. “Kalau malam, lorong ini penuh lampu. Banyak yang foto-foto di sini. Senang rasanya, dusun kami jadi ramai,” ungkapnya.