Sewindu Patanjala Pangauban Cisanggarung, Inspirasi Relawan Lingkungan Global
- 11 Agt 2025 07:39 WIB
- Cirebon
KBRN, Kuningan : Alunan lembut karinding terdengar berpadu dengan lantunan rajah nyanyian doa dalam bahasa Sunda yang mengalun khidmat di antara percakapan para tamu di Kopi Hawwu, Kabupaten Kuningan, Minggu (10/8/2025) malam. Hajat Ageng Sawindu Pangauban Cisanggarung digelar, dengan prosesi bertajuk Kagaluhan, Menyalakan Api Gunung, dan Patarema Rasa.
Percakapan lintas bahasa dan lintas budaya malam itu berpadu dengan irama karinding. Semua hadir dengan satu tujuan, menjaga sungai, menjaga kehidupan.
Acara ini mempertemukan para sukarelawan lingkungan dari berbagai daerah, termasuk Sungai Cimanuk, Ciliwung, Cimandiri, dan Citarum. Hadir pula wisatawan mancanegara yakni Joy dan Alicia dari Irlandia, Cecilia dan Smith dari Inggris, serta Marcus dan Natali dari Singapura.

Bagi Joy, perjalanan ke Kuningan bukan sekadar wisata. Ia datang khusus untuk mengkaji kearifan lokal Patanjala, sistem pengelolaan hutan dan sungai warisan leluhur Sunda.
“Kami telah berkampanye selama lima atau enam tahun untuk menghentikan perusahaan-perusahaan besar masuk dan meracuni sungai. Jadi, kami memahami situasi anda dan kami mendoakan yang terbaik untuk anda,"ucap dia, menghubungkan perjuangan masyarakat Cisanggarung dengan kampanye lingkungan di Irlandia.
Joy kagum pada cara Patanjala membagi kawasan hutan menjadi hutan larangan, hutan tutupan, dan hutan garapan. "Ini semacam metode untuk membuat hutan tetap menjadi hutan. Sesederhana itu. Semoga anda beruntung karena ketika semua uang dan kekuasaan besar melawan Anda, itu adalah hal yang sulit. Sungguh menakjubkan apa yang anda lakukan,"katanya.
Ia juga menitip pesan kepada Pupuhu Patanjala Pangauban Cisanggarung, Rana Suparman, yang juga anggota DPRD Kuningan. “Tolong dengarkan masyarakat, dan dengarkan alam,” ujarnya singkat namun penuh makna.
Rana mengaku bangga atas perhatian wisatawan mancanegara. Baginya, Patanjala bukan hanya relevan di tingkat lokal, tetapi mulai diakui secara internasional. “Metodologi ini sudah mulai diakademikan di Jepang, dan suatu saat akan menjadi pegangan dunia,” tegasnya.
Menurut Rana, Pangauban Cisanggarung lahir dari kesamaan visi dengan aktivis lingkungan global: menolak eksploitasi alam. Komunitas ini bahkan telah menyusuri punggungan gunung yang menjadi hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisanggarung untuk menumbuhkan kesadaran menjaga kelestarian alam sekaligus mengenalkan kekayaan kawasan tersebut.

Tokoh Patanjala, Rahmat Leuweung, menambahkan, jauh sebelum konsep modern one river, one plan, one management lahir, leluhur Sunda sudah menyusun ilmu patanjala. Dalam bahasa Sunda, patan berarti air, sedangkan jala adalah sungai atau wilayah yang harus dipelihara dan dilestarikan.
“Di Kuningan, alhamdulillah, anak cucu kompak. Waktu Kang Rana menjabat Ketua DPRD, beliau menginisiasi Patanjala menjadi salah satu regulasi di kabupaten. Meskipun ada kendala, itu menjadi bahan evaluasi ke depan,” kata Rahmat.
Kini, gerakan itu juga menginspirasi daerah lain. Kabupaten Sukabumi, misalnya, tengah menyusun peraturan daerah yang mengadaptasi Patanjala Kuningan. “Misi kami adalah tatanan sepuh ini suatu saat menjadi kebijakan negara,” ujarnya.