Cerita Mikrofon yang Digunakan Saat Pembacaan Teks Proklamasi
- 06 Agt 2025 07:53 WIB
- Cirebon
KBRN, Cirebon: Adakah di antara kita yang tahu bagaimana cerita mikrofon yang dipakai Soekarno saat pembacaan Teks Proklamasi?
Dilansir dari Good News From Indonesia, pagi itu tanggal 17 Agustus 1945 dua orang pemuda menaiki mobil berkendara berkeliling, tujuannya satu: mencari pinjaman mikrofon.
Dua pemuda yang diketahui bernama Wilopo dan Njonoprawoto, menurut kesaksian Sudiro dalam bukunya “Saya Sekitar 17 Agustus '45” terbitan Yayasan Idayu Jakarta, akhirnya bertemu dengan Gunawan dari Radio Satriya. Dialah pemilik mikrofon yang nantinya akan digunakan dalam acara Proklamasi Kemerdekaan.
Namun saat bertemu Gunawan, baik Wilopo maupun Njonoprawoto tak sedikit pun mengungkap keperluan di balik peminjaman mikrofon itu. Gunawan sendiri amat lihai, baik corong maupun standarnya rupanya merupakan bikinannya. Juga versteker dan band, dibuat dari selubung rokok.
Berhubung Wilopo dan Njonoprawoto tak mengerti caranya memasang mikrofon, Gunawan kemudian meminta saudaranya yang bernama Sunarto untuk ikut saja. Barulah di dalam mobil, Sunarto diberitahu kalau mikrofon akan dipakai untuk Proklamasi Kemerdekaan.
Menurut Sudiro, yang merupakan tokoh pejuang kemerdekaan, tak benar bahwa mikrofon satu-satunya yang digunakan pada waktu Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 itu adalah curian dari Belanda. Setelah sampai di Pegangsaan Timur 56, tempat dilaksanakannya Proklamasi Kemerdekaan, Sunarto segera memasangnya.
Latief Hendraningrat, salah satu orang yang melakukan pengamanan saat Proklamasi Kemerdekaan, ketika melihat persiapan sebelum acara, menuliskan:
"Ada mikrofon yang telah terpasang, tiang bendera yang terbuat dari bambu serta katrol biasa dengan tali kasar untuk mengibarkan bendera merah putih juga telah tersedia. Tamu undangan pun sudah datang."
Mikrofon pun segera dikembalikan ke Gunawan usai digunakan di acara tersebut. Keberadaan mikrofon bersejarah itu kemudian berpindah-pindah, dibawa pemiliknya. Gunawan sempat hijrah ke Solo pada 1946. Kadang-kadang benda tersebut ia tunjukkan ke sahabat-sahabatnya, namun tak pernah lagi digunakan.
Mikrofon tersebut ditawar orang untuk dibeli, namun selalu ditolak. Hingga akhirnya, pada tahun 1960, Gunawan menyerahkan mikrofon tersebut pada Harjoto, Sekjen Kementerian Penerangan. Katanya, akan diserahkan ke Presiden dan disimpan di Monumen Nasional. Tapi rencana itu tak terlaksana, sehingga keberadaannya tak diketahui lagi.
Sementara itu, seperti dalam pemberitaan Kompas.com, sebelum meninggal di tahun 1982, Gunawan sendiri pernah berpesan kepada keluarganya supaya dapat mencari keberadaan mikrofon itu. Sebab, benda bersejarah ini pantas kita simpan sepanjang masa.