Sejarah Teh Tawar Tersaji di Rumah Makan Sunda
- 24 Jun 2025 07:55 WIB
- Cirebon
KBRN, Cirebon: Kebiasaan minum teh saat makan memang sudah menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Apa pun minumannya, teh akan jadi jawabannya. Makanya, teh bisa kita temukan dengan mudah dalam setiap menu minuman di mana saja. Mulai dari warung makan pinggir jalan hingga restoran berkelas sekalipun.
Menariknya, teh menjadi minuman yang biasa diberikan gratis saat kita pergi ke rumah makan khas Sunda. Terutama teh tawar, biasanya kita tidak perlu membayar untuk minuman segar satu ini.
Dilansir dari Good News From Indonesia, menurut Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, pada abad ke-17 atau sekitar tahun 1600-an, Belanda membawa tanaman teh ke Batavia (Jawa) melalui jalur Pantai Sukabumi. Di sana, tertanamlah teh yang menurut ajaran bangsa India sangat cocok dikembangkan di Jawa Barat.
Pada abad tersebut terdapat 131 perkebunan teh yang berkembang di ranah Jawa Barat. Lantaran perkembangan teh di Jawa Barat begitu pesat, warganya pun sudah bisa mengakses minuman ini terlebih dahulu. "Sebetulnya yang lebih dulu secara ekstensif minum teh di Indonesia itu, ya orang Jawa Barat," kata Prof. Mur, panggilan akrabnya, saat Kumparan hubungi beberapa waktu lalu.
Namun, karena tanaman teh berkembang pada masa penjajahan, saat itu masyarakat Indonesia hanya bisa menikmati minuman ini dari hasil seduhan batang teh saja. Sementara daun tehnya menjadi komoditas ekspor yang bernilai menguntungkan.
Meski terbuat hanya dari sisa batang teh, kreativitas masyarakat Sunda membuat mereka bisa menikmati minuman ini dengan baik. Bahkan tak perlu beli.
"Mereka tak perlu beli, jadi air teh, atau dalam bahasa Sunda cai teh, itu diberikan secara percuma. Itulah kenapa teh tawar panas bisa gratis kalau di rumah makan Sunda. Tapi kalau di tempat lain harus bayar, karena memang masyarakatnya tak terdidik untuk minum teh," ucap Prof. Mur menambahkan.
Mulai dari situlah teh Indonesia kian berkembang. Teh mulai masuk ke Jawa Tengah. Masyarakat Jawa Tengah mengolah teh menjadi teh hijau karena proses pengolahannya lebih cepat dibandingkan teh hitam yang perlu difermentasi terlebih dahulu.
Masyarakat Jawa Tengah pun tak kalah kreatif dengan masyarakat Jawa Barat. Mereka memadukan teh dengan bunga melati, sehingga kita mengenalnya kini dengan sebutan teh wangi atau jasmine tea dalam bahasa Inggris. Tak sampai di situ, teh juga berkembang hampir ke seluruh tanah Jawa bahkan menyeberang ke Pulau Sumatera. Akhirnya, menyebar ke Sumatera, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.