Tercekik Harga Kedelai, Getir Tahu Akibat Kebijakan Global
- 28 Apr 2025 11:50 WIB
- Cirebon
KBRN, Kuningan: Di dapur sederhana milik Aris di Kecamatan Kuningan, kepulan uap dari rebusan tahu masih mengepul. Tapi ada yang berbeda jumlah tahu yang ia hasilkan tak lagi sebanyak dulu. Bukan karena permintaan menurun, tapi karena harga kedelai, bahan baku utama tahu, kini melonjak tinggi. Ironisnya, gejolak ini tak hanya bersumber dari dalam negeri, tapi juga dari kebijakan ekonomi di negara adidaya, Amerika Serikat.
Harga kedelai impor kini menembus angka Rp10.200 per kilogram, jauh dari harga normal yang biasanya masih di kisaran Rp9.000-an. Kenaikan ini, menurut para analis, tak lepas dari efek domino kebijakan dagang proteksionis yang pernah diterapkan oleh Donald Trump saat menjabat sebagai Presiden AS.
Trump, yang terkenal dengan slogan "America First", pernah memberlakukan tarif tinggi terhadap produk China. Sebagai balasannya, China mengurangi impor kedelai dari Amerika produsen kedelai terbesar dunia. Akibatnya, pasar kedelai global pun terguncang. Ketersediaan pasokan berubah, harga melonjak, dan negara-negara pengimpor seperti Indonesia pun harus menanggung dampaknya hingga hari ini.
“Sekarang produksi harian saya harus dipangkas 30 persen. Kalau dipaksakan, bisa rugi besar,” ujarnya.
Tahu-tahu hasil produksinya kini lebih sedikit dan ukurannya mengecil, semua demi menekan biaya.
Tak hanya Aris, Pardi pedagang tahu keliling dari Desa Tambakbaya juga merasakan imbasnya. Ia terpaksa menaikkan harga jual tahu, dari Rp500 menjadi Rp600 per biji. Namun langkah ini justru membuatnya kehilangan sebagian pelanggan.
"Orang bilang tahu sekarang mahal. Tapi saya juga bingung, mau makan apa kalau nggak begitu?," ucapnya.
Tahu, makanan sederhana yang dulunya bisa dinikmati siapa saja, kini menjadi simbol tekanan ekonomi global yang merambat hingga ke dapur-dapur rakyat kecil. Si putih lembut ini terjebak dalam pusaran ekonomi dunia yang dikendalikan oleh kekuatan besar seperti Amerika dan China. Para pelaku usaha lokal pun hanya bisa berharap.
"Kami butuh pemerintah turun tangan. Kalau tidak, tahu bisa jadi barang langka. Dan kami? Mungkin harus cari pekerjaan lain," katanya.
Dalam gejolak global, ternyata tahu pun tak bisa sembunyi. Ia jadi saksi bisu betapa keputusan satu negara bisa berdampak jauh hingga ke kaki Gunung Ciremai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....