Keturunan Kyai Hasan Maolani Kenalkan Sejarah Perjuangan

  • 06 Apr 2025 13:47 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Kuningan: Pengurus Paguyuban Keluarga Besar Keturunan Kyai Hasan Maolani Lengkong Kuningan mengajak seluruh keturunan Eyang Kyai Hasan Maolani (EKHM) untuk lebih mengenal dan memahami sejarah perjuangan beliau sebagai ulama dan pahlawan nasional. Dalam acara yang diadakan oleh pengurus, diharapkan keturunan EKHM dapat melestarikan dan meneruskan semangat heroisme beliau dalam berbagai aspek kehidupan.

Ketua Pengurus Paguyuban, H. Yusron Kholid, dalam sambutannya mengungkapkan pentingnya mengenal sejarah perjuangan EKHM bagi keturunan beliau.

“Kami berharap seluruh keturunan Eyang Kyai Hasan Maolani, terutama pengurus, dapat menghidupkan amal ibadah dan semangat perjuangan beliau. Seperti yang kita tahu, Eyang Kyai Hasan Maolani adalah tokoh besar yang sangat berpengaruh di Tatar Sunda, bahkan perjuangannya melawan penjajahan Belanda membuat beliau diasingkan hingga akhir hayatnya,” ujarnya.

Eyang Kyai Hasan Maolani lahir pada 22 Mei 1782 M (8 Jumadil Akhir 1196 Hijriyah) di Desa Lengkong, Kabupaten Kuningan. Beliau adalah putra dari Ny. Murtasim binti Kyai Arifah dan Kyai Tubagus Lukman bin Kyai Sathor. Pasangan ini mendirikan pesantren Roudlotuttholibin di Lengkong, yang menjadi tempat pendidikan bagi banyak santri dari berbagai daerah.

Selama masa mudanya, EKHM menuntut ilmu di berbagai pesantren di Tatar Sunda, antara lain di Pangkalan Ciawigebang, Cidahu, Kadugede, Rajagaluh, Majalengka, Babakan Ciwaringin, dan Cirebon. Setelah menguasai ilmu agama dan thoriqoh sathoriyah, beliau membuka pesantren di Lengkong dan menerima banyak santri dari berbagai daerah. EKHM dikenal sebagai ulama yang mengajarkan semangat perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

“Eyang Kyai Hasan Maolani bukan hanya seorang ulama, tetapi juga pejuang yang tidak takut untuk menentang penjajahan. Beliau menolak segala bentuk kerjasama dengan penjajah Belanda, salah satunya adalah dengan menolak membayar pajak hasil pertanian,” katanya.

Selain itu, EKHM juga menentang penanaman kopi yang dipaksakan oleh Belanda di wilayah Kuningan. EKHM memilih untuk mendorong masyarakat menanam sayuran dan palawija sebagai alternatif yang lebih menguntungkan. “Eyang Kyai Hasan Maolani mengajarkan agar hasil bumi lebih baik dibagikan kepada fakir miskin daripada dijual kepada penjajah,” ujarnya.

EKHM juga dikenal mengajarkan ilmu bela diri (pencak silat) dan strategi perlawanan kepada santri dan masyarakat setempat. Keteguhan beliau dalam menentang penjajahan menyebabkan beliau ditangkap pada tahun 1841 dan dipenjara di Cirebon, Batavia, sebelum akhirnya diasingkan ke Menado, Sulawesi Utara, hingga wafat pada 29 April 1874.

Setiap tahun, keturunan EKHM mengadakan acara haul untuk mengenang jasa beliau. Meskipun acara tersebut masih berlangsung sederhana, banyak pihak berharap agar pemerintah memberikan penghargaan lebih tinggi kepada beliau.

“Kami berharap ada pengakuan dari pemerintah, seperti pemberian nama jalan dengan nama Jl. Kyai Hasan Maolani atau Jl. Eyang Hasan Maolani, sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan beliau yang besar,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....