Kreativitas dari Benang, Devan Handy Craft Andalkan Inovasi dan Tren Pasar

  • 25 Jul 2026 20:44 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Berawal dari hobi dan rasa penasaran mengolah benang menjadi kerajinan, UMKM Devan Handy Craft di Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, berhasil menghadirkan berbagai produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi. Mengikuti tren pasar dan terus belajar menjadi kunci usaha tersebut bertahan sekaligus berkembang.

Pemilik Devan Handy Craft, Siti Fatimah, mengatakan usahanya telah dirintis sejak 2019. Namun, aktivitas produksi sempat terhenti akibat pandemi COVID-19 dan kembali dijalankan pada awal 2026 dengan fokus pada produk kerajinan berbahan benang.

"Awalnya bukan untuk dijual, tapi karena penasaran bagaimana benang bisa menjadi produk yang lucu dan unik. Dari situ saya belajar terus sampai akhirnya menjadi usaha," katanya dalam program UMKM Berbicara RRI Cirebon.

Saat ini Devan Handy Craft memproduksi berbagai kerajinan seperti gantungan kunci, aksesori, hingga produk berbahan makrame. Seluruh proses pengerjaan dilakukan secara manual sehingga membutuhkan ketelitian dan kesabaran.

Menurutnya, produk yang paling diminati konsumen adalah gantungan kunci dengan desain yang mengikuti tren anak sekolah dan mahasiswa. Harga produknya pun dibuat terjangkau, mulai dari Rp5.000 hingga Rp15.000, tergantung jenis benang dan tingkat kerumitannya.

"Kalau craft tidak bisa asal bikin. Kita harus melihat minat konsumen dan tren yang sedang disukai. Jadi produksi juga menyesuaikan kebutuhan pasar," ujarnya.

Produk Devan Handy Craft kini dipasarkan secara langsung di beberapa galeri UMKM, seperti RBC, Galeri Caruban, dan Mal UKM. Selain itu, promosi juga dilakukan melalui media sosial agar mampu menjangkau konsumen yang lebih luas.

Ia menilai pelaku UMKM saat ini harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Meski belum menguasai media sosial secara maksimal, ia mengaku terus belajar memanfaatkan platform digital sebagai sarana promosi.

"Jangan pernah merasa gaptek. Walaupun belum bisa, kita harus mau belajar karena sekarang dunia usaha tidak lepas dari media sosial," ucapnya.

Selain memanfaatkan media digital, ia juga aktif mengikuti berbagai pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan pemerintah maupun lembaga swasta. Menurutnya, pelatihan tersebut membantu pelaku UMKM memahami strategi pemasaran, membangun relasi, hingga mengembangkan pola pikir sebagai wirausaha.

Ia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam menjalankan usaha kerajinan tidak sekadar berfokus pada proses pembuatan produk. Pelaku usaha juga dituntut untuk mampu membaca tren pasar secara cermat serta menentukan produk yang benar-benar dibutuhkan oleh konsumen.

"Jangan fokus pada masalah, tapi fokus pada solusi. Terus belajar, jangan pernah berhenti mencari guru, karena dari setiap proses kita akan terus berkembang," katanya.

Ia berharap semakin banyak masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, yang berani memulai usaha dari keterampilan yang dimiliki. Menurutnya, usaha tidak harus dimulai dengan modal besar, tetapi dengan kemauan belajar, konsisten, dan berani mencoba.

Ia juga mengajak pelaku UMKM pemula untuk aktif menjalin komunikasi dengan dinas terkait agar mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta peluang pengembangan usaha. Dengan semangat belajar dan inovasi, ia optimistis produk kerajinan lokal mampu memiliki daya saing sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....