Pemilik Batik Samida Lihat Potensi Batik Indonesia Semakin Berkembang
- 11 Mar 2026 13:22 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Usaha batik lokal di Cirebon terus berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap produk budaya khas Indonesia yang memiliki nilai seni sekaligus nilai ekonomi. Salah satunya adalah usaha Batik Samida yang dirintis oleh Lutfiyah Handayani sejak tahun 2015 dan hingga kini masih bertahan dengan mengandalkan produksi batik handmade serta pemasaran secara daring.
Pemilik Batik Samida, Lutfiyah Handayani, menjelaskan bahwa usaha tersebut awalnya muncul dari aktivitas membatik yang sudah lama dilakukan oleh keluarga dan masyarakat di sekitar rumahnya. Ia kemudian berinisiatif membantu memasarkan hasil batik para perajin yang sebelumnya hanya dijual melalui pengepul dengan sistem pembayaran yang cukup lama.
“Batik Samida ini saya mulai merintis sekitar tahun 2015,” ujarnya kepada RRI, Rabu, 11 Maret 2026.
Menurutnya, pada masa awal merintis usaha, banyak perajin batik di lingkungan tempat tinggalnya menjual hasil produksi kepada pengepul yang kemudian dipasarkan hingga ke luar Pulau Jawa. Namun proses pembayaran kepada para perajin seringkali memerlukan waktu yang lama karena harus menunggu pengepul kembali dari perjalanan penjualan.
Melihat kondisi tersebut, Lutfiyah yang saat itu masih berstatus mahasiswa mencoba menjual batik secara langsung ke pasar yang lebih dekat seperti wilayah Cirebon agar perputaran uang bisa lebih cepat diterima oleh para perajin. Dari pengalaman tersebut, ia kemudian mulai mengembangkan usaha dengan menyediakan bahan baku sendiri sekaligus mengajak para perajin untuk memproduksi batik secara lebih terorganisir.
Saat ini Batik Samida memproduksi berbagai jenis batik handmade mulai dari batik cetak hingga batik tulis dengan harga yang bervariasi tergantung tingkat kerumitan motif, warna, serta jenis kain yang digunakan. Produk yang ditawarkan mulai dari kisaran puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah untuk motif tertentu seperti Mega Mendung yang memiliki detail pengerjaan lebih rumit.
“Untuk penjualannya 99 persen itu online, ada di Instagram, Shopee, dan paling banyak itu lewat kanal WhatsApp Business,” katanya.
Lutfiyah menambahkan bahwa hingga saat ini Batik Samida telah memiliki pelanggan yang cukup loyal meskipun lingkup pasarnya belum terlalu besar. Ia juga optimistis potensi batik Indonesia akan terus berkembang karena tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga membawa identitas budaya yang semakin dihargai di berbagai negara.