First Jobber Diingatkan Jaga Arus Kas agar Keuangan Tidak Defisit
- 20 Sep 2026 09:30 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – First jobber atau pekerja yang baru memasuki dunia kerja diingatkan pentingnya mengatur pemasukan dan pengeluaran sejak menerima penghasilan pertama. Pengelolaan keuangan diperlukan agar pengeluaran tidak melebihi pendapatan dan kondisi keuangan tetap sehat.
Kepala Bidang Keuangan, Dosen dan HR Politeknik LP3I Cirebon, Imas mengatakan pengelolaan keuangan perlu diawali dengan perencanaan sesuai pendapatan dan kebutuhan. Menurutnya, perencanaan tersebut dapat menjadi tolok ukur untuk mengetahui batas pengeluaran setiap bulan.
“Cara ideal adalah menghindari defisit; itulah kunci dalam manajemen keuangan. Arus kas kita harus sehat,” katanya pada Rabu 16 September 2026.
Ia menjelaskan, kondisi defisit terjadi ketika pengeluaran lebih besar dibandingkan pendapatan sehingga seseorang berpotensi harus berutang untuk memenuhi kebutuhan. Karena itu, pekerja perlu memastikan uang yang masuk mampu mencukupi seluruh pengeluaran hingga waktu menerima penghasilan berikutnya.
Ia mencontohkan, pekerja perlu memperhitungkan sisa uang ketika mendekati hari gajian berikutnya. Menurutnya, pengaturan tersebut diperlukan agar seseorang tidak terus meminjam uang untuk menutup pengeluaran sebelum menerima gaji.
Selain mengendalikan pengeluaran, ia menilai pekerja tetap dapat menyediakan anggaran untuk kebutuhan pribadi atau hadiah bagi diri sendiri. Pengeluaran tersebut diperbolehkan selama sudah direncanakan dan tidak mengganggu alokasi kebutuhan utama.
Ia juga menekankan bahwa persentase pembagian penghasilan tidak harus diterapkan secara sama kepada setiap orang. Menurutnya, kondisi dan kebutuhan setiap individu berbeda sehingga pembagian anggaran perlu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
Konsultan Pendidikan Politeknik LP3I Cirebon, Reiska Nur Tahbaria mengatakan pencatatan pemasukan dan pengeluaran dapat membantu pekerja mengetahui ke mana uang digunakan. Ia mengaku terbiasa mencatat pendapatan, pengeluaran, serta jumlah yang akan disimpan setiap bulan.
“Biasanya, setiap bulan, saya menghitung pendapatan bulanan saya terlebih dahulu, lalu saya mencantumkan pengeluaran saya untuk bulan itu. Lalu putuskan berapa banyak yang harus disimpan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebiasaan mengatur uang sejak masih sekolah membantunya ketika mulai memperoleh penghasilan sendiri. Ia menerapkan pembagian anggaran dengan 50 persen untuk kebutuhan, 20 persen untuk dana darurat, dan 30 persen untuk pengeluaran lainnya.
Ia mengatakan kemampuan mengelola keuangan sebaiknya dibangun sejak usia dini melalui kebiasaan sederhana dalam mengatur uang. Menurutnya, pembelajaran tersebut dapat membantu seseorang terbiasa menentukan kebutuhan, mengukur pengeluaran, serta mengelola sisa uang.
Ia menegaskan tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki pengelolaan keuangan, termasuk bagi pekerja yang sudah lama bekerja. Menurutnya, evaluasi terhadap pendapatan dan pengeluaran dapat dilakukan kembali agar kondisi keuangan tidak terus berada dalam keadaan defisit.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....