Jangan Konsumtif, Ini Pentingnya Perencanaan Keuangan jelang Lebaran
- 16 Mar 2026 17:55 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Menjelang Idul Fitri, fenomena peningkatan daya beli masyarakat seolah menjadi tradisi tahunan yang tak terelakkan. Antusiasme ini didorong oleh pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) yang memberikan suntikan dana segar bagi para pekerja untuk memenuhi berbagai kebutuhan hari raya.
Peningkatan konsumsi masyarakat untuk kue lebaran, perlengkapan mudik, pakaian baru, hingga tradisi open house dan reuni seolah menjadi keharusan di momen Idul Fitri. Pakar Ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR) Prof Dr Tika Widiastuti SE MSi menilai bahwa peningkatan konsumsi menjelang hari besar merupakan perilaku konsumtif yang seringkali bukan karena kebutuhan melainkan keinginan.
“Konsumsi tidak selalu bersifat konsumtif. Kalau dari perspektif ekonomi, perilaku konsumtif terjadi ketika seseorang membeli sesuatu bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan keinginan. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh tren, keinginan untuk meningkatkan status sosial, atau sekadar mengikuti ajakan lingkungan,” katanya seperti dilansir laman resmi UNAIR (unair.ac.id) Jumat, 13 Maret 2026.
Prof Tika mengatakan, banyak orang yang keliru dalam mengatur keuangan jelang lebaran. Kesalahan yang paling sering ditemui adalah masyarakat cenderung tidak memprioritaskan kebutuhan utama hanya untuk memenuhi keinginan yang sebenarnya bisa dikesampingkan.
“Kalau di ekonomi islam, kebutuhan terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu dharuriyah (kebutuhan pokok), hajiyah (kebutuhan penunjang), dan tahsiniyah (kebutuhan pelengkap). Kesalahannya itu adalah cenderung pada pemenuhan atau pemuasan keinginan. Karena, yang disebut keinginan itu apabila itu dipenuhi sebenarnya biaya yang dikeluarkan itu tidak sebanding dengan benefitnya,” ujarnya.
Prof. Tika menekankan pentingnya perencanaan keuangan demi menghindari perilaku konsumtif dalam menyambut momen Idul Fitri. Ia menyarankan untuk memisahkan anggaran kebutuhan lebaran dari rekening utama agar pengeluaran lebih terkontrol.
“Kalau kalian punya pemasukan tambahan, yang boleh dipakai hanya sekitar 70 persen untuk kebutuhan lebaran. Sementara, sisanya bisa disimpan untuk kebutuhan tidak terduga. Kalian bisa mulai dengan mencatat kebutuhan lebaran apa saja, lalu pisahkan anggaran kebutuhan lebaran dari rekening utama agar pengeluaran lebih terkontrol,” tegasnya.
Sebagai penutup Prof. Tika mengingatkan bahwa esensi Idul Fitri bukan sekadar merayakan konsumsi, melainkan tentang merawat kebersamaan dan menebar kepedulian. Beliau pun mengajak masyarakat untuk menyisihkan sebagian rezeki kepada yang membutuhkan agar perayaan Idul Fitri menjadi lebih bermakna dan berharga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....