Ditengah Perang Tarif Pajak, Pasar Industri Mebel Meningkat
- 26 Apr 2025 21:36 WIB
- Cirebon
KBRN, Cirebon: Tren industri mebel dunia saat ini cenderung turun akan tetapi pangsa pasar Indonesia di eskpor dunia justru meningkat. Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Cirebon Raya Eddy Sugiarto menjelaskan berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian tren industri mebel pada tahun 2023 lalu mengalami penurunan hingga minus 2,99 persen, tapi pertumbuhan ekspor mebel Indonesia dari tahun 2023 sampai 2024 naik 3 persen.
"Barang-barang kita ekspor kita itu meningkat. Memang kita menanglah dalam hal ini, pasar kita semakin besar walaupun itunya terjadi penurunan di dunia. Otomatis ada beberapa negara yang mungkin bisa kita kalahkan lah kasaranya dalam ekspor ini. Dari catatan kita datanya masih secara global ya. Memang itu hanya di furniturenya kalau kerajinan malah menurun dari market kitanya," kata Eddy kepada rri.co.id, Sabtu (26/4/2025).

Sementara Sekretaris Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Cirebon, H. Rodiya mengungkapkan kondisi perekonomian global saat ini termasuk perdagangan internasional kaitan dengan ekspor impor secara umum sedang tidak baik. Mulai dari proses akibat Covid-19, perang Rusia - Ukraina, krisis ekonomi di Eropa, kemudian konflik Israel - Palestina dan sekarang perang tarif pajak antar negara besar.
Diakui Rodiya, sebelumnya juga ada dampak dari perang non tarif yang mana ada beberapa negara melakukan upaya menghambat produk-produk yang masuk dengan menerapkan non tarif seperti sertifikasi produk dan perusahaan.
"Kebijakan tarif yang diluncurkan oleh Donald Trump ini, mereka menganggap bahwa ada beberapa non tarif berada di Indonesia, salah satunya mungkin yang kita tahu TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) minimal 25 persen sehingga menyebabkan produk-produk elektronik dari Amerika dan mungkin negara lain juga tidak bisa masuk," ujarnya.
Menurut Rodiya dari kebijakan TKDN ini, pemerintah pusat menginginkan bahwa setiap produk yang masuk ke Indonesia harus menggunakan bahan baku dan tenaga lokal minimal sebesar 25 persen dari Indonesia."Ini banyak tidak dipenuhi oleh para pelaku industri luar negeri," ucapnya.
Selain itu, ungkapnya satu hal lain yang mendapat kritisi paling tajam dari Negara Amerika kepada Indonesia adalah kaitan dengan sertifikat halal karena banyak produk-produk Amerika Serikat tercegat oleh kebijakan sertifikat halal ini. Belum lagi ditambah dengan tarif bayar yang nilainya luar biasa. Saat ini sudah bergerak diangka 47 persen, padahal di awal hanya 10 persen kemudian naik lagi menjadi 32 persen.
Rodiya menambahkan hal ini memperburuk kondisi dan menjadi tantangan terbesar bagi para pelaku usaha eksportir untuk bisa bertahan. Namun ditengah ketidakpastian tersebut pihaknya optimis para pelaku usaha masih mempunyai inovasi untuk dapat menembus pasar global."Pengusaha furniture kita ini banyak caranya untuk bisa tembus ekspor ke luar negei," kata Rodiya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....