Arti dari Budaya Bedong pada Bayi yang Baru Lahir

  • 30 Sep 2026 22:09 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID,Cirebon - Bedong atau membungkus tubuh bayi menggunakan kain merupakan tradisi yang telah lama dikenal di berbagai masyarakat, termasuk Indonesia. Kebiasaan ini umumnya dilakukan sejak bayi baru lahir dengan tujuan memberikan rasa nyaman, hangat dan membantu menenangkan bayi. Dalam praktiknya, bedong dapat membantu mengurangi gerakan refleks mengejutkan sehingga sebagian bayi menjadi lebih tenang ketika akan tidur.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat bahwa bedong dengan kain tipis dapat digunakan sebagai salah satu bentuk dukungan fisik untuk menenangkan bayi, dengan tetap memperhatikan risiko kepanasan.

Secara budaya, bedong sering dimaknai sebagai bentuk perawatan dan perlindungan orang tua terhadap bayi yang masih beradaptasi dengan lingkungan di luar rahim. Namun, cara membedong bayi perlu mengikuti prinsip keselamatan.

American Academy of Pediatrics (AAP) menyebutkan bahwa bedong dapat membantu menenangkan bayi, tetapi tidak terbukti sebagai cara untuk mencegah Sudden Infant Death Syndrome atau SIDS. Jika bayi dibedong untuk tidur, bayi harus selalu diletakkan dalam posisi telentang.

Hal penting lainnya adalah bagaimana kain membungkus bagian tubuh bayi. Bedong tidak boleh terlalu ketat, terutama pada bagian pinggul dan kaki. International Hip Dysplasia Institute menjelaskan bahwa kaki bayi seharusnya tetap dapat menekuk dan bergerak ke arah luar. Membungkus kedua kaki secara lurus dan rapat dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan perkembangan sendi pinggul atau hip dysplasia.

Selain pinggul, orang tua juga perlu memperhatikan suhu tubuh bayi. Bedong yang terlalu tebal, ditambah pakaian berlapis atau kondisi ruangan yang panas, dapat meningkatkan risiko bayi mengalami kepanasan. WHO mencatat bahwa penggunaan pakaian atau bedong yang berlebihan dapat menjadi salah satu faktor lingkungan yang menyebabkan hipertermia pada bayi baru lahir. Karena itu, kepala dan wajah bayi harus tetap terbuka serta bahan bedong sebaiknya ringan dan memungkinkan sirkulasi udara.

AAP merekomendasikan agar bedong tidak lagi digunakan ketika bayi menunjukkan tanda-tanda mulai berusaha berguling. Sebab, bayi yang sudah dapat berguling memiliki risiko lebih tinggi apabila dalam kondisi dibedong kemudian berubah ke posisi tengkurap. Bedong juga tidak boleh digunakan untuk menggantikan prinsip tidur aman, termasuk menempatkan bayi telentang di tempat tidur yang bebas dari benda lunak atau selimut longgar.

Budaya bedong pada bayi pada dasarnya dapat dipahami sebagai tradisi perawatan untuk memberikan rasa nyaman dan membantu menenangkan bayi, bukan sebagai keharusan medis bagi setiap bayi. Jika dilakukan, orang tua perlu memastikan bagian dada tidak terlampau ketat, pinggul dan kaki tetap leluasa bergerak, serta bayi tidak kepanasan. Pengawasan orang tua dan penerapan prinsip tidur aman menjadi hal yang lebih penting daripada sekadar mempertahankan kebiasaan membedong.

Bagi keluarga yang masih mempertahankan tradisi bedong, cara yang aman adalah menjadikan budaya tersebut sebagai bentuk perawatan yang disesuaikan dengan kebutuhan bayi dan rekomendasi kesehatan. Apabila bayi memiliki masalah pada pinggul, kesulitan bernapas, mudah kepanasan atau menunjukkan kondisi yang tidak biasa, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Dengan demikian, nilai budaya tetap dapat dipertahankan tanpa mengabaikan keselamatan dan tumbuh kembang bayi.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....