Sarasehan Basa Dermayu Hasilkan Lima Rekomendasi Penting
- 12 Sep 2026 17:00 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Indramayu - Kegiatan Sarasehan Basa Dermayu yang diselenggarakan Lembaga Basa lan Sastra Dermayu (LBSD) sukses merumuskan lima rekomendasi penting. Acara bertema “Basa Dermayu dalam Kesenian dan Kemasyarakatan” ini bertempat di Aula Dispusip Kabupaten Indramayu pada Sabtu, 12 September 2026.
Rekomendasi pertama mengusulkan penggunaan basa Dermayu sehari dalam lima hari kerja di lingkungan dinas, instansi pemerintah kabupaten, BUMD, hingga sekolah. Rekomendasi kedua mengusulkan kepada perguruan tinggi agar mau membuka mata kuliah atau program studi Basa Dermayu.
Ketiga, LBSD merekomendasikan sosialisasi peningkatan kemampuan berbahasa Dermayu pada kalangan pendidik. Rekomendasi keempat berupa perencanaan Kongres Basa Dermayu tahun depan, serta kelima yakni LBSD mengadakan sarasehan rutin tiap bulan dengan materi berbeda.
Ketua LBSD Faris Al Faisal memaparkan keberadaan basa Dermayu dalam kemasyarakatan terbagi menjadi tingkatan basa ngoko atau bagongan dan basa krama atau bebasan. Ia menyebutkan ada pula kata-kata yang termasuk bahasa kasar seperti badog untuk makan, congor untuk hidung, dan gableg untuk punya.
Faris mengungkapkan tingkatan basa krama di Indramayu kini kurang berkembang karena tuturan orang tua berkurang. Selain itu, pernikahan antarsuku dan pergaulan modern di kompleks perumahan baru turut mengabaikan penggunaan basa Dermayu.
Sisi payung hukum pengajaran bahasa daerah di Indramayu sebenarnya sudah didukung Keputusan Bupati Indramayu, Perda Jabar, dan UU Kebahasaan. Namun, penerapannya di tingkat SD kendala muncul karena pengajar adalah guru umum kelas yang harus mengajar semua mata pelajaran.
Kondisi di SMP dan SMA/SMK juga mengalami kesulitan karena tidak ada guru yang khusus berlatar belakang pendidikan Bahasa Indramayu. Pembelajaran terkadang dilakukan oleh guru mata pelajaran lain, bahkan ada sekolah yang sama sekali tidak menyelenggarakannya.
Pembicara lain Supali Kasim memaparkan keberadaan bahasa daerah Dermayu dari kacamata dunia kesenian daerah. Menurut kajian dialektometri, basa Dermayu secara linguistik merupakan Bahasa Jawa dialek Indramayu, tetapi masyarakat menyebutnya basa Dermayu.
Gelar basa Dermayu biasa digunakan masyarakat seni pada wayang kulit purwa dan wayang golek cepak dengan suluk atau antawacana berbahasa kawi, sansekerta, atau Jawa Kuna. Pemaparan ceritanya berbaur dengan Bahasa Jawa Madya dan Anyar, termasuk kata-kata khas Dermayu.
Pada tembang macapat atau bujanggaan tampak kata-kata Bahasa Jawa Madya, sedangkan parikannya menjurus bahasa sehari-hari. Pada kesenian sandiwara digunakan tingkatan Bahasa Jawa Madya dan basa Dermayu kekinian, begitu pula pada lagu-lagu tarling.
Supali menyoroti kata-kata kasar seperti goblog atau rainira dalam dialog kesenian sandiwara maupun tarling yang seakan menjadi biasa. Hal itu terjadi tanpa peringatan dari pemerintah untuk mengajak seniman berembug mengenai batas penggunaannya.
Sarasehan ini diikuti sekitar 30 peserta dari kalangan mahasiswa, penulis, perangkat desa, guru, hingga seniman. Diskusi berjalan menarik dengan banyaknya pertanyaan yang dikemukakan peserta seperti Saptaguna, Tatang Sutandi, Ruhaendi, H. Nono Haryono, Abdul Aziz, Arif, Uus Hasanah, Umiyati, Dewi Amane, Sulistijo, Juju Wastianingsih, serta Tinhaeli.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....