Malu Bertanya Sesat Di Jalan, Pentingnya Belajar
- 04 Sep 2026 12:50 WIB
- Cirebon
Poin Utama
- Malu Bertanya Sesat Di Jalan, Pentingnya Belajar
RRI.CO.ID, Cirebon - “Malu bertanya sesat di jalan” merupakan salah satu nasihat orang tua yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Dahulu, peribahasa ini digunakan untuk mengajarkan anak agar tidak takut bertanya ketika menghadapi kesulitan.
Seseorang yang tidak mengetahui arah perjalanan sebaiknya bertanya daripada terus berjalan tanpa tujuan. Makna tersebut ternyata semakin penting di tengah kehidupan modern yang penuh informasi.
Saat ini, manusia memiliki akses terhadap informasi yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Mesin pencari, media sosial, video pembelajaran, dan berbagai aplikasi membuat informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik.
| Baca juga: Ruwatan Sakral Ikan Dewa di Tanah Sunda |
Namun, banyaknya informasi tidak berarti semua orang otomatis memahami sesuatu. Ada kalanya seseorang tetap membutuhkan bantuan orang lain untuk mendapatkan penjelasan yang benar.
Dalam dunia pendidikan, keberanian bertanya merupakan bagian penting dari proses belajar. Anak yang bertanya sebenarnya sedang menunjukkan keinginan untuk memahami sesuatu. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak mempermalukan anak ketika mereka mengajukan pertanyaan yang dianggap sederhana. Sebaliknya, pertanyaan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk membangun rasa ingin tahu.
Kebiasaan bertanya juga penting bagi orang dewasa. Di tempat kerja, seseorang tidak harus berpura-pura memahami semua hal. Bertanya kepada rekan yang lebih berpengalaman dapat mencegah kesalahan.
Dalam kehidupan sehari-hari, meminta penjelasan juga dapat membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih baik. Namun, “bertanya” pada era digital juga harus disertai kemampuan memeriksa sumber.
Tidak semua jawaban yang ditemukan di internet benar. Informasi kesehatan, keuangan, pendidikan, maupun berita perlu dibandingkan dengan sumber yang kredibel sebelum dipercaya dan disebarluaskan.
UNESCO menempatkan literasi media dan informasi sebagai kemampuan penting agar masyarakat mampu mengakses, mengevaluasi, menggunakan, serta menghasilkan informasi secara kritis dan bertanggung jawab.
Filosofi “malu bertanya sesat di jalan” juga mengajarkan bahwa manusia tidak harus selalu berjalan sendirian. Kehidupan memang membutuhkan kemandirian, tetapi kemandirian bukan berarti menolak bantuan. Seseorang yang mampu mengetahui kapan harus bertanya justru memiliki kesadaran terhadap keterbatasan dirinya.
Dalam keluarga, orang tua dapat menciptakan suasana yang membuat anak nyaman bertanya. Anak perlu merasa bahwa rumah merupakan tempat aman untuk mengungkapkan kebingungan. Ketika anak mendapatkan respons yang baik, mereka akan belajar bahwa mencari informasi dan meminta bantuan merupakan perilaku positif.
Di tengah perubahan zaman, filosofi tersebut semakin bernilai. Dunia modern membutuhkan manusia yang bukan hanya cepat mendapatkan jawaban, tetapi juga berani mengakui ketika belum mengetahui sesuatu. Bertanya bukan tanda kelemahan. Bertanya merupakan langkah awal untuk memahami, belajar, dan menemukan jalan yang lebih tepat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....