Panjang Jimat Dimaknai sebagai Upaya Merawat Iman dan Tradisi

  • 31 Agt 2026 18:04 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Tradisi Panjang Jimat di Keraton Cirebon tidak hanya dipandang sebagai rangkaian ritual budaya dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi tersebut dinilai memiliki makna spiritual yang berkaitan dengan upaya masyarakat untuk terus mengingat Nabi, memperkuat silaturahmi, dan melakukan refleksi diri.

Budayawan dan Seniman Cirebon, Akbarudin Sucipto, mengatakan tradisi Maulid Nabi yang populer disebut Muludan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Cirebon. Menurutnya, rangkaian Muludan di sejumlah keraton Cirebon memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar keramaian atau pasar malam.

“Sisi positifnya apa? Ee keraton-keraton di Cirebon itu masih kelingan Kanjeng Nabi. Bagi saya sederhananya itu aja,” ujarnya dalam program Macapat RRI Cirebon, Kamis 27 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, peringatan Maulid Nabi juga menjadi momentum masyarakat untuk bersilaturahmi. Bahkan, warga Cirebon yang merantau kerap menyempatkan diri pulang ketika Muludan berlangsung.

Ia menilai kuatnya tradisi tersebut menunjukkan adanya harapan masyarakat untuk memperoleh syafaat Nabi Muhammad SAW. Harapan itu kemudian diwujudkan melalui berbagai kegiatan keagamaan, seperti pembacaan Barzanji dan Marhaban.

Menurutnya makna spiritual Panjang Jimat juga dapat dilihat dari istilah “jimat”. Ia menjelaskan, jimat tidak semata-mata dimaknai sebagai benda pusaka yang bersifat sakral, tetapi sebagai warisan budaya tak benda yang mengandung nilai dan pesan kehidupan.

Ia bahkan memaknai Panjang Jimat sebagai momentum untuk melakukan “pemeriksaan” terhadap diri sendiri. Tradisi mencuci pusaka dalam rangkaian Panjang Jimat, menurutnya, dapat menjadi simbol membersihkan diri dari kesalahan dan kekhilafan.

“Nah, yang dimaksud dengan jimat ini bagi masyarakat Cirebon tentunya kan kalau kita membacanya sekilas ya pasti urusannya tidak jauh dari keris. Tapi jimat yang dimaksud ini kalau bahasa budaya sekarang itu adalah yang intangible,” katanya.

Ia menambahkan, nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui introspeksi dan perbaikan amal. Dengan demikian, Panjang Jimat tidak berhenti sebagai tradisi tahunan, tetapi dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk terus memperbaiki kualitas keimanan.

Ia berharap setelah mengikuti rangkaian Muludan dan Panjang Jimat, masyarakat tidak hanya memperoleh pengalaman budaya, tetapi juga mengalami peningkatan dalam kehidupan spiritual, sosial, dan ekonomi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....