Tradisi Panjang Jimat Maulid Nabi Terjaga di Keraton Cirebon Kasepuhan
- 25 Agt 2026 18:05 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Tradisi Maulid Nabi di Keraton Kesepuhan Cirebon terus dilaksanakan setiap tahun melalui rangkaian prosesi adat Panjang Jimat. Tradisi tersebut menjadi bagian dari cara masyarakat Cirebon memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus menjaga warisan budaya dan nilai keagamaan.
Pegiat Budaya Cirebon sekaligus Wargi Kesultanan Cirebon, Drs. R. Chaidir Susilaningrat, mengatakan peringatan Maulid Nabi di keraton tidak hanya dilakukan dengan pembacaan kitab Barzanji. Peringatan juga dilengkapi prosesi adat yang menjadi ciri khas keraton-keraton di Cirebon.
Menurut Chaidir, tradisi serupa juga dilaksanakan di Keraton Kanoman dan sejumlah keraton lainnya di Cirebon. Tradisi tersebut menjadi bagian dari cara umat Islam, khususnya di Jawa, dalam mengagungkan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
| Baca juga: Alasan Mengapa Harus Ada Mie di Malam Imlek |
Ia menjelaskan, tradisi peringatan Maulid Nabi juga berkembang di lingkungan keraton di daerah lain, seperti Sekaten di Keraton Yogyakarta dan tradisi serupa di Keraton Surakarta. Kelahiran Nabi Muhammad SAW dipandang sebagai rahmat bagi seluruh alam sehingga diperingati oleh umat Islam.
“Bagaimana tradisi ini bisa terus-menerus sampai berlangsung hingga saat ini? Ya, ini karena faktor tradisi tadi, makanya upacaranya juga disebut Panjang Jimat. Panjang itu artinya berlangsung secara terus-menerus, kontinyu, jadi kontinuitasnya terjaga sampai saat ini dilaksanakan dari generasi ke generasi,” ujarnya kepada RRI, Selasa, 25 Agustus 2026.
Lebih lanjut, ia menyebut keberlangsungan Panjang Jimat menunjukkan adanya proses pewarisan tradisi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Selain menjadi prosesi adat, tradisi tersebut juga memiliki makna filosofis dan keagamaan yang masih dipertahankan hingga kini.
| Baca juga: Milad 53 Bima Suci Teguhkan Tradisi |
Chaidir menerangkan, istilah jimat dalam Panjang Jimat dimaknai dari ungkapan bahasa Cirebon siji kang dirumat atau satu yang dipelihara. Makna tersebut kemudian dikaitkan dengan kalimat la ilaha illallah sebagai kalimat thayyibah yang menjadi pegangan umat Islam.
“Jimat itu adalah siji kang dirumat, satu yang dipelihara. Apa satu yang dipelihara? Itu bagi umat Islam adalah kalimat la ilaha illallah, kalimat thayyibah, jadi kita sebagai umat muslim memegang teguh kalimat thayyibah, tidak ada Tuhan selain Allah yang satu,” katanya.
Dengan makna tersebut, Panjang Jimat tidak hanya menjadi rangkaian prosesi dalam peringatan Maulid Nabi, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan pesan keagamaan. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun itu sekaligus memperkuat identitas budaya Cirebon yang berpadu dengan nilai-nilai Islam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....