Sadranan Cikaso Ungkap Jejak Bupati Kuningan Masa Awal Islam
- 24 Agt 2026 20:20 WIB
- Cirebon
Poin Utama
- Ratusan warga Desa Cikaso, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat menyelenggarakan tradisi Sadranan di makam Imba Kerti, seorang tokoh pemerintahan pada masa awal Islam.
- Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Cikaso bersama Lembaga Adat Desa melalui program Kampung Tengger sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
- Sadranan tahun ini semakin bermakna setelah beredar informasi tentang keberadaan makam tokoh pemerintahan Kuningan pada periode awal perkembangan Islam di kawasan tersebut.
RRI.CO.ID, Kuningan - Ratusan warga bersama tokoh masyarakat menyelenggarakan Sadranan di sekitar makam Imba Kerti atau yang dikenal pula dengan gelar Patih Tumunggung Argawijaya, Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kegiatan tersebut digelar Pemerintah Desa Cikaso bersama Lembaga Adat Desa melalui Kampung Tengger.
Selain menjadi tradisi penghormatan terhadap leluhur, Sadranan tahun ini turut mengemuka setelah adanya informasi mengenai makam tokoh pemerintahan Kuningan pada masa awal Islam yang berada di kawasan tersebut.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kabupaten Kuningan, Emup Muplihudin, mengatakan terdapat informasi mengenai dua makam yang disebut sebagai mantan Bupati Kuningan pada masa sebelum kemerdekaan, khususnya periode awal masuknya Islam.
"Semula ada info di Cikaso ada dua makam mantan Bupati Kuningan pra-kemerdekaan atau pada masa awal Islam, yaitu makam Brataningrat 1 dan Brataamidjaya. Saat ini, yang baru terlihat dan teridentifikasi adalah makam Brataamidjaya, yang merupakan Bupati ke-3 pada masa Islam masuk," kata Emup, Senin 24 Agustus 2026.
Jejak sejarah tersebut menambah nilai penting kompleks makam Cikaso yang selama ini dikenal masyarakat sebagai salah satu situs keramat sekaligus tempat peristirahatan sejumlah tokoh masa lalu.
Dalam babad Cikaso, Imba Kerti disebut sebagai penasihat utama Tumenggung Cikaso. Ia digambarkan sebagai sosok yang arif dan bijaksana serta memiliki pengetahuan luas sehingga menjadi tempat masyarakat meminta pertimbangan.
Dalam menjalankan tugasnya, Imba Kerti disebut didampingi dua saudaranya, yakni Imbawacana yang membantu urusan pemerintahan dan Imbasuta yang menangani bidang kesejahteraan masyarakat serta pertanian.
Kompleks makam tersebut juga dikaitkan dengan sejarah perjuangan masyarakat menghadapi penjajahan. Sejumlah tokoh, termasuk Patih Nagareja, disebut turut dimakamkan di kawasan tersebut.
Kepala Desa Cikaso, Hidayat, mengatakan temuan dan identifikasi makam tokoh pemerintahan masa lampau menjadi bagian penting dalam upaya menguatkan sejarah Desa Cikaso.
"Ini semakin mempertegas bahwa Cikaso bukan hanya benteng pertahanan adat, tetapi juga memiliki jejak sebagai salah satu pusat penyebaran agama dan pemerintahan Islam pada masa lampau," ujar Hidayat.
Menurut dia, tradisi Sadranan menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat hubungan dengan sejarah sekaligus menjaga keberadaan tradisi lokal agar tidak terputus oleh perkembangan zaman.
Momentum tersebut juga berlangsung di tengah rangkaian peringatan Hari Jadi ke-528 Kuningan, sehingga tradisi Sadranan tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi turut membuka kembali ruang untuk menggali sejarah lokal yang selama ini tersimpan di tengah masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....