Guru Majalengka Ciptakan LIGAS, Hidupkan Aksara Sunda dari Ruang Kelas
- 18 Agt 2026 19:05 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Majalengka - Pelestarian budaya Sunda terus dilakukan dari berbagai lini, termasuk melalui dunia pendidikan. Di Kabupaten Majalengka, seorang guru sekolah dasar mengembangkan inovasi pembelajaran aksara Sunda yang dikemas lebih sederhana dan menarik bagi siswa.
Adalah Sri Intan Gustina, S.Pd, guru SDN Tonjong I Majalengka, yang menggagas program "Pajajaran Anyar di Sakola". Program tersebut menjadi wadah untuk mengenalkan budaya Sunda kepada siswa melalui pembelajaran aksara Sunda dan seni tari.
Salah satu inovasi utama dalam program itu adalah LIGAS (Latihan Gancang Aksara Sunda). Sebuah modul pembelajaran yang dirancang untuk membantu siswa mengenal, memahami, dan mengingat aksara Sunda dengan metode yang lebih mudah dan menyenangkan.
"Pengenalan budaya kepada anak-anak harus dilakukan dengan pendekatan yang dekat dengan dunia mereka. Utamanya yang menyenangkan, sekaligus mampu menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya sendiri," ujar Sri Intan, Selasa,18 Agustus 2026.
Selain aksara Sunda, Sri Intan juga mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler seni tari di SDN Tonjong I. Meski tidak berlatar belakang pendidikan seni, ia turut melatih siswa sebagai bagian dari upaya memperkenalkan budaya daerah sejak usia sekolah dasar.
Menurut Sri Intan, pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab seniman atau budayawan. Sekolah memiliki peran strategis karena menjadi tempat generasi muda mendapatkan pengetahuan sekaligus membentuk karakter.
"Melestarikan budaya tidak harus menunggu kita menjadi ahli seni. Sebagai guru, saya percaya sekolah adalah tempat yang sangat strategis untuk mengenalkan dan menanamkan kecintaan terhadap budaya kepada generasi muda," katanya.
Program LIGAS dan kegiatan seni tari tersebut kemudian memberikan dampak positif. Sejumlah siswa SDN Tonjong I berhasil meraih prestasi di bidang aksara Sunda maupun seni tari.
Namun, bagi Sri Intan, prestasi bukanlah tujuan utama. Ia ingin siswa mengenal budaya Sunda sebagai bagian dari kehidupan mereka dan memiliki kebanggaan terhadap identitas daerah.
"Prestasi bukan tujuan akhir. Yang paling penting adalah bagaimana anak-anak mengenal budaya Sunda sebagai bagian dari kehidupan mereka, sesuatu yang dekat, menyenangkan dan layak untuk terus diwariskan," ucapnya.
Konsistensi Sri Intan dalam mengembangkan inovasi pendidikan dan pelestarian budaya membawanya menjadi salah satu ASN berprestasi yang mewakili Kabupaten Majalengka di tingkat Provinsi Jawa Barat. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka, H. Muhamad Umar Ma’ruf, mengapresiasi capaian tersebut.
Ia menilai inovasi Sri Intan menunjukkan peran penting seorang guru yang tidak sebatas pengajar. Lebih dari itu, guru juga mampu menjadi penggerak inovasi sekaligus pelestari budaya.
"Bu Sri Intan memberikan contoh bahwa guru memiliki peran yang sangat luas. Tidak hanya mengajar di dalam kelas, tetapi juga mampu melahirkan inovasi, mengembangkan potensi peserta didik, sekaligus menjaga nilai-nilai budaya daerah," ujar Umar.
Ia berharap keberhasilan tersebut dapat mendorong guru lainnya untuk mengembangkan inovasi sesuai potensi sekolah dan lingkungan masing-masing. Bagi Sri Intan, merawat budaya Sunda harus dimulai sejak dini.
Aksara Sunda, bahasa, seni tari, serta nilai-nilai budaya perlu diperkenalkan kepada anak-anak sejak dini. Langkah ini penting agar kekayaan budaya tersebut tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, melainkan tetap hidup dalam keseharian generasi penerus.
"Merawat kasundaan bukan hanya tugas seorang seniman. Ini tanggung jawab bersama. Sekolah adalah salah satu tempat terbaik untuk menanamkan kembali akar budaya kepada generasi penerus," tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....