Mengenal Etika Bertutur Dermayon lewat Penggunaan Kata "Reang"
- 11 Agt 2026 10:59 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga menyimpan sejarah dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu kata yang masih akrab di telinga masyarakat Indramayu adalah reang.
Kata "reang" dalam bahasa Jawa Indramayu (Basa Dermayon) artinya "saya" atau "aku". Kata ini digunakan dalam konteks percakapan informal atau santai (ngoko) saat berbicara dengan kawan sebaya maupun lawan bicara yang sudah akrab. Sedangkan untuk ragam bahasa yang lebih halus (krama), masyarakat Indramayu umumnya menggunakan kata kula.
Hal tersebut juga diungkapkan oleh Khoerul Arif (21) warga asli Indramayu. Seiring berkembangnya bahasa, penyebutannya disederhanakan menjadi "reang" agar lebih mudah digunakan dalam percakapan sehari-hari.
"Sebutan kata "reang" berasal dari kata “rehyang" yang bermakna saya atau abdi. Tak hanya itu, bahwa perubahan kata tersebut serupa dengan istilah "sembahyang" yang berasal dari frasa "nyembah sahyang", dimana "Sahyang" dimaknai sebagai junjungan atau Dewa-dewa. Proses penyerdehanaan bahasa itulah yang kemudian memunculkan kata "reang" yang kian menjadi salah satu ciri khas masyarakat Indramayu dalam betutur," ujar Khoerul Arif kepada RRI pada Rabu (5/8/2026) siang.
Lebih lanjut menurutnya kata "reang" bukan hanya sekadar kata ganti, melainkan juga sebagai bentuk dari rasa percaya diri. Kebanyakan orang yang mengucapkan kata tersebut cenderung menunjukkan keyakinan terhadap dirinya sendiri.
"Kalau ngomong 'reang' itu pasti pede banget, bahkan hingga kini, penggunaan kata "reang" masih banyak ditemui di kalangan masyarakat Indramayu. Akan tetapi, dikarenakan budaya setempat mempercayai penggunaan kata tersebut dianggap kurang baik jika disampaikan kepada orang yang lebih tua, kata "reang" lebih umum digunakan di kalangan orang dewasa dibanding anak-anak," lanjutnya.
Oleh karenanya, walaupun "reang" merupakan kata yang sederhana, tapi kata tersebut mampu menjadi salah satu bukti bahwa bahasa daerah tidak hanya menyimpan makna linguistik, tetapi juga mencerminkan karakter, identitas, serta nilai kesopanan yang hidup di tengah masyarakat Indramayu.
Penggunaan kata bahasa lokal merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya lokal, identitas daerah, serta keanekaragaman bahasa (kebhinnekaan) bangsa. Menggunakan bahasa lokal saat berinteraksi menciptakan rasa kekeluargaan dan kedekatan emosional antarpenuturnya, juga menunjukkan asal-usul, latar belakang geokultural, serta kearifan lokal (local wisdom) suatu masyarakat
(Sumber : HanaNursila_StidAl-Biruni)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....