Seren Taun 1959 Saka di Cigugur Kuningan : Ruang Persaudaraan & Miniatur Indonesia

  • 08 Jun 2026 21:29 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Kuningan - Puncak Upacara Adat Seren Taun 22 Rayagung 1959 Saka di Paseban Tri Panca Tunggal, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, berlangsung khidmat dan meriah, Senin 8 Juni 2026. Mengusung tema "Merawat Prasasti Bangsa untuk Masa Depan Bangsa", tradisi turun-temurun tersebut kembali menjadi ruang perjumpaan lintas elemen masyarakat dalam merayakan rasa syukur sekaligus memperkuat nilai persaudaraan dan keberagaman.

Puncak perayaan yang dipusatkan di gedung, halaman, dan Taman Sari Paseban Tri Panca Tunggal itu dihadiri Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar, Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Kekayaan Intelektual Kementerian Kebudayaan RI I Made Dharma Suteja, serta para pemuka adat dari berbagai keraton di Nusantara.

Ketua Yayasan Tri Panca Tunggal sekaligus Ketua Panitia Seren Taun, Dewi Kanti Setianingsih, mengatakan penyelenggaraan Seren Taun tahun ini sengaja dirancang sebagai ruang refleksi sosial dan kebangsaan guna terus menghidupkan nilai-nilai Pancasila, gotong royong, dan kemanusiaan.

Menurut Dewi Kanti, Seren Taun bukan hanya perayaan budaya, melainkan juga menjadi momentum untuk merawat warisan leluhur dan memperkuat semangat kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Sebagai hari puncak dari rangkaian kegiatan yang telah dimulai sejak Rabu (3/6/2026), perayaan Seren Taun pada Senin (8/6/2026) diawali sejak pukul 08.00 WIB dengan berbagai ritual adat dan pertunjukan seni yang digelar secara maraton.

Acara dibuka dengan Tari Jamparing Apsari dan Tari Puragabaya Gebang yang sarat dengan semangat kepahlawanan Sunda. Suasana semakin semarak dengan penampilan Angklung Kanekes dari masyarakat Baduy, Angklung Buncis, hingga Tari Buyung yang memukau para tamu undangan.

Memasuki prosesi inti, rangkaian acara dilanjutkan dengan Helaran Memeron atau arak-arakan budaya dan Ngajayak sebagai prosesi penyambutan padi. Setelah sesi sambutan dan doa bersama, masyarakat adat melaksanakan ritual Pangrajah untuk memohon keselamatan.

Puncak upacara ditandai dengan prosesi penumbukan padi secara bersama-sama sebagai simbol rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah. Seluruh rangkaian Seren Taun 1959 Saka kemudian ditutup dengan pagelaran wayang golek yang menghibur warga dan wisatawan yang memadati kawasan Paseban Cigugur.

Sementara itu, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menegaskan bahwa Seren Taun tidak sekadar seremoni panen tahunan, melainkan sebuah refleksi filosofis tentang keselarasan hidup manusia dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta.

“Seren Taun bukan sekadar perayaan panen semata. Seren Taun adalah perjalanan kehidupan yang mengajarkan bahwa manusia tidak pernah bisa hidup sendiri. Ada tanah yang memberi kehidupan, ada air yang menghidupkan, ada matahari yang menerangi, ada sesama yang menguatkan, dan ada Tuhan Yang Maha Kuasa yang menjadi sumber segala keberkahan,” ujar Dian.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak kehilangan identitas budaya di tengah derasnya arus modernisasi.

“Pohon yang besar bukan hanya karena rantingnya menjulang tinggi, melainkan karena akarnya menghujam ke bumi. Begitu pula sebuah bangsa, akan tetap tegak apabila mampu menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhurnya,” katanya.

Dian turut mengapresiasi masyarakat Cigugur yang dinilai berhasil menjadikan Seren Taun sebagai miniatur Indonesia. Perbedaan keyakinan dan tradisi di wilayah tersebut terbukti mampu berjalan beriringan dalam harmoni yang nyata.

Sebagai bentuk komitmen, Pemerintah Kabupaten Kuningan berencana memasukkan Seren Taun ke dalam kalender budaya resmi daerah mulai tahun depan guna mendongkrak sektor pariwisata.

Apresiasi juga disampaikan Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Kekayaan Intelektual Kementerian Kebudayaan RI, I Made Dharma Suteja. Menurutnya, Seren Taun merupakan representasi nyata budaya agraris Nusantara yang masih sangat relevan dengan tantangan zaman modern.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan Seren Taun yang terus hidup dan berkembang. Tradisi seperti ini merupakan kekayaan budaya bangsa yang harus dijaga, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” kata I Made Dharma Suteja.

Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut kembali menegaskan Seren Taun sebagai ruang perjumpaan budaya, agama, dan tradisi yang hidup berdampingan dalam semangat kebangsaan, sekaligus menjadi miniatur Indonesia yang menjunjung tinggi nilai keberagaman dan persatuan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....