Melintas di Cigugur, Jangan Lewatkan Jejak Van Beek

  • 31 Mei 2026 23:18 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Kuningan – Bagi pengendara yang melintas di ruas jalan Cigugur menuju Cisantana dan Palutungan, perhatian mungkin akan tertuju pada sebuah bangunan tua bercat putih yang berdiri tepat di depan Markas Koramil 1515/Cigugur. Dari luar, bangunan itu tampak sederhana, namun di balik dindingnya tersimpan kisah panjang tentang jejak orang-orang Eropa yang pernah tinggal di Kuningan pada masa Hindia Belanda.

Bangunan tersebut dikenal sebagai Situs Makam Van Beek, sebuah kompleks pemakaman kuno yang telah berusia lebih dari satu abad. Bentuknya menyerupai monumen dengan arsitektur khas Eropa yang jarang ditemukan di wilayah Kuningan.

Pagar besi tua yang mulai berkarat menjadi gerbang menuju bangunan bersejarah tersebut. Begitu memasuki area makam, suasana langsung berubah. Hiruk-pikuk kendaraan dari jalan raya seolah menghilang, berganti dengan suasana tenang yang dikelilingi pepohonan dan taman kecil yang terawat.

Di bagian tengah bangunan berdiri tiga makam utama yang berada di bawah kubah besar. Cahaya matahari masuk melalui ventilasi berbentuk persegi dan salib, menciptakan nuansa temaram yang menambah kesan sakral sekaligus misterius.

Tak hanya bangunan utama, di halaman sekitar juga terdapat sejumlah makam kuno lain yang kini mulai tertutup lumut dan dimakan usia. Keseluruhan kompleks menjadi penanda bahwa kawasan Cigugur pernah menjadi salah satu tempat favorit warga Eropa untuk bermukim dan beristirahat.

Dosen Sejarah dari Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon, Tendi, menjelaskan bahwa nama yang diabadikan pada situs tersebut merujuk kepada Hendrik Albertus van Beek, seorang pejabat Departemen Pekerjaan Umum pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

"Orang pada nyebutnya Van Beck padahal tulisannya itu Beek. Jadi dulu itu ada namanya Hendrik Albertus van Beek yaitu orang yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum. Nah si Van Beek pernah menikah di Bandung sekitar 1907. Dan di Kuningan menjabat sebagai supervisor," kata Tendi, Minggu, 31 Juni 2026.

Menurutnya, kompleks makam itu dibangun langsung oleh Van Beek sebagai tempat pemakaman keluarga. Dengan latar belakang pekerjaannya di bidang konstruksi, ia merancang sebuah bangunan makam yang megah untuk ukuran zamannya.

"Ternyata kalau dicek si Van Beek itu makam yang peruntukan untuk keluarga awalnya. Karena dia orang pekerjaan umum dia berupaya untuk membuat permakaman yang megah di Cigugur sebagai pemakaman keluarganya. Tapi dianya juga tidak dimakamkan di sana," ujarnya.

Keberadaan makam tersebut tidak lepas dari sejarah kawasan Cigugur yang pada masa kolonial dikenal memiliki udara sejuk dan pemandangan alam yang menarik bagi orang-orang Eropa. Banyak pegawai dan pengusaha Belanda yang bekerja di wilayah Cirebon memilih membangun rumah peristirahatan di daerah Kuningan.

"Karena orang Eropa itu kan biasa di Eropa dingin dan sejuk. Ketika mereka banyak bekerja di Cirebon ada yang di pabrik gula, pabrik rokok, pelabuhan dan mereka itu refreshing dan membangun perumahan itu di daerah Kuningan. Makanya kampung Belanda lama itu adanya di Linggajati, Sangkanhurip, dan Cigugur. Banyak juga peninggalan makam Belanda di daerah itu, karena tempat itu jadi tempat istirahatnya orang Eropa," tutur Tendi.

Catatan mengenai pembangunan kompleks makam ini bahkan pernah dimuat dalam surat kabar Belanda Algemeen Handelsblad. Dalam publikasi tersebut disebutkan bahwa Van Beek membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk menyelesaikan pembangunan makam bergaya Eropa tersebut.

Inspirasi desainnya disebut berasal dari monumen pemakaman di Italia yang terbuat dari marmer. Namun karena keterbatasan material dan kondisi lokasi saat itu, Van Beek memilih menggunakan beton sebagai bahan utama bangunan.

Kini, lebih dari seabad setelah didirikan, Situs Makam Van Beek masih berdiri tegak di tengah perkembangan wilayah Cigugur. Bangunan itu menjadi salah satu saksi bisu perjalanan sejarah Kuningan, sekaligus pengingat bahwa kawasan di kaki Gunung Ciremai ini pernah menjadi tempat bernaung bagi komunitas Eropa pada masa kolonial.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....