Tradisi Mapag Sri Jadi Edukasi Budaya Generasi Muda Indramayu
- 12 Mei 2026 20:04 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Indramayu - Tradisi Mapag Sri sebagai ritus budaya agraris masyarakat Jawa kembali digelar dalam kegiatan “Sarasehan Ngaji Budaya Mundakjaya Lestari 2026” bertema “Mapag Sri: Tradisi, Spiritualitas, dan Warisan Budaya Tani Desa Mundakjaya”. Kegiatan berlangsung di Balai Desa Mundakjaya, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, Senin, 11 Mei 2026 malam.
Sarasehan yang berlangsung sejak pukul 19.30 hingga 23.00 WIB itu menghadirkan sejumlah budayawan, dalang, dan tokoh adat. Mereka membahas nilai spiritual, filosofi tani, hingga pentingnya pelestarian tradisi budaya masyarakat agraris.
Demang Keraton Kacirebonan sekaligus ahli manuskrip kuna, Muhamad Mukhtar Zaedin, menjelaskan bahwa Mapag Sri merupakan tradisi menyambut panen raya padi sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Ia menerangkan kata “Mapag” berarti menjemput, sedangkan “Sri” berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna kemuliaan, keberuntungan, dan kehormatan.
Menurut Mukhtar, penghormatan terhadap padi merupakan bentuk penghargaan masyarakat terhadap sumber kehidupan utama para petani. "Penghormatan terhadap padi merupakan bentuk penghargaan masyarakat terhadap sumber kehidupan utama para petani," ujar Mukhtar.
Lebih lanjut, ahli manuskrip kuna itu juga mengistilahkan Mapag Sri dengan nada guyon. “Kalau padi langsung dijual di sawah atau ditebas, itu bukan mapag sri tapi mapag duit,” katanya disambut gelak tawa peserta sarasehan.
Mukhtar menegaskan masyarakat Jawa tempo dulu memuliakan padi dengan menyimpannya terlebih dahulu di lumbung sebelum dijual. Tradisi tersebut dinilai sebagai bagian dari penghormatan terhadap hasil bumi sekaligus menjaga adat istiadat bangsa.
Narasumber lainnya, Elang Panji Jaya Prawira Kusuma, keturunan ke-18 Sunan Gunungjati dari Mertasinga, menyampaikan pentingnya memahami guna tani atau tata waktu bercocok tanam yang diwariskan leluhur masyarakat Jawa. Ia menjelaskan proses pertanian tradisional dimulai dari penentuan hari baik, pengolahan sawah, pengaturan aliran air, penyemaian benih, hingga masa tandur dan wiwitan.
Menurut Elang Panji, Mapag Sri merupakan bentuk harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas. "Mapag sri sebagai bentuk harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas," ucap Elang Panji.
Sementara itu, Ki Dalang Nur Teja, keturunan ke-15 Sunan Kalijaga sekaligus dalang wayang Keraton Kanoman, menguraikan filosofi peralatan tani dalam ajaran Sunan Kalijaga. Menurutnya, pacul atau cangkul mengandung ajaran moral dan spiritual bagi manusia.
Ia menjelaskan makna “ngaji” sebagai upaya mendekatkan diri kepada ilmu, jiwa, dan ketuhanan. "Alat bercocok tanam sarat pesan kehidupan, mulai dari bekerja keras, tidak menjauh dari Tuhan, pantang menyerah, hingga berani menjalani tanggung jawab hidup," ucap Ki Dalang Nur Teja.
Pegiat seni budaya Indramayu, Karno, menjelaskan makna prosesi awal memetik padi dalam tradisi Mapag Sri yang diawali dari empat penjuru mata angin lalu menuju titik tengah. Menurutnya, prosesi lima titik tersebut merupakan simbol falsafah Jawa kiblat papat lima pancer yang melambangkan keseimbangan hubungan manusia dengan alam, sesama, leluhur, dan Tuhan.
"Simbol falsafah Jawa kiblat papat lima pancer yang melambangkan keseimbangan hubungan manusia dengan alam, sesama, leluhur, dan Tuhan," kata Karno.
Dalam kesempatan itu, Ketua Dewan Kesenian Indramayu sekaligus moderator kegiatan, Ray Mengku Sutentra, menyampaikan tradisi Mapag Sri merupakan bagian penting dari Objek Pemajuan Kebudayaan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Ia menjelaskan Dewan Kesenian Indramayu telah melakukan audiensi dengan DPRD Kabupaten Indramayu Komisi II terkait dorongan penerbitan Peraturan Daerah tentang Pemajuan Kebudayaan melalui jalur inisiatif.
“DPRD Komisi II menyepakati dan menyanggupi bahwa pada tahun 2026 Perda Pemajuan Kebudayaan dapat terbit dan menjadi pijakan kuat bagi pemajuan kebudayaan di Indramayu,” ujarnya.
Kegiatan sarasehan turut dihadiri Kuwu Mundakjaya Hj. Dariah, Camat Cikedung Dadang Supriatna, S.IP., M.Si., ulama MUI Kecamatan Cikedung KH Ibrohim Nawawi, Ketua BPD Desa Mundakjaya Sudarman, S.Sn., beserta jajarannya, perangkat desa, serta masyarakat setempat. Acara juga dimeriahkan penampilan kesenian dari peserta didik TK Tunas Harapan Mulya Mundakjaya, RA Al-Ishlah Munjul, Bengkel Seni SMA Negeri 1 Terisi (BESTER), dan Lovie Keysa Supandi dari Lovie Art Dance Jatibarang.
Selain itu, dilaksanakan pula gelar pameran edukasi Tosan Aji oleh Ali Topan dari Paguyuban Astadharma Kabupaten Indramayu. Panitia berharap kegiatan tersebut menjadi sarana edukasi budaya bagi masyarakat dan generasi muda agar tetap mencintai dunia pertanian sebagai penjaga peradaban.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....