Mitos Burung Perkutut dalam Budaya Jawa antara Kepercayaan dan Simbolisme
- 03 Mei 2026 21:09 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Burung perkutut memiliki tempat istimewa dalam budaya Jawa. Lebih dari sekadar hewan peliharaan, burung ini sarat dengan nilai simbolik, spiritual, dan mitologis yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dalam tradisi Kejawen, perkutut kerap dikaitkan dengan konsep katuranggan—yakni penilaian berdasarkan ciri fisik tertentu yang dipercaya mencerminkan kekuatan gaib atau yoni. Kepercayaan terhadap burung perkutut tidak hanya menyentuh aspek estetika dan suara, tetapi juga menyangkut harapan akan keberuntungan, ketenteraman, hingga perlindungan dari marabahaya.
Bagi sebagian masyarakat Jawa, memelihara perkutut bahkan menjadi simbol identitas dan kejantanan seorang pria.
Legenda dan Asal-usul Mistis
Salah satu kisah yang kerap dikaitkan dengan burung perkutut adalah legenda Joko Mangu. Dalam cerita rakyat, perkutut dipercaya sebagai jelmaan seorang pangeran Pajajaran bernama Joko Mangu yang kemudian dipelihara oleh Prabu Brawijaya V dari Majapahit. Kisah ini memperkuat anggapan bahwa perkutut bukan sekadar burung biasa, melainkan memiliki dimensi spiritual dan sejarah yang mendalam.
Katuranggan Pembawa Keberuntungan
Dalam tradisi katuranggan, beberapa jenis perkutut diyakini membawa keberuntungan bagi pemiliknya, antara lain:
- Pancuran Mas: Dipercaya mampu mendatangkan rezeki yang mengalir tanpa henti.
- Pedaringan Kebak: Melambangkan kecukupan dan kemakmuran dalam kehidupan sehari-hari.
- Banyu Mili: Diyakini menciptakan suasana rumah yang harmonis, hangat, dan penuh kedamaian.
Kepercayaan ini menjadikan pemilihan perkutut tidak dilakukan sembarangan, melainkan melalui pertimbangan mendalam terhadap ciri fisiknya.
Simbol Tolak Bala
Selain sebagai pembawa rezeki, beberapa jenis perkutut juga dipercaya memiliki kekuatan sebagai penolak energi negatif:
- Cemani Kol Buntet: Dengan bulu hitam legam, dipercaya mampu menangkal bala dan gangguan gaib.
- Joboyo: Memiliki kebiasaan tidur di dasar kandang, diyakini sebagai pelindung dari energi negatif.
- Singkir Sengkolo: Ciri khas sayap mendongak, konon pernah dipelihara oleh Sunan Kalijaga sebagai sarana tolak bala.
Perkutut sebagai Klangenan
Dalam kehidupan sehari-hari, perkutut juga dikenal sebagai klangenan atau hewan kesayangan. Suaranya yang khas dan merdu dipercaya memberikan ketenangan batin serta kebahagiaan bagi pemiliknya. Tidak sedikit pecinta perkutut yang merawat burung ini sebagai bagian dari gaya hidup sekaligus bentuk pelestarian budaya.
Antara Kepercayaan dan Realitas
Meski sarat dengan nilai mistis, kepercayaan terhadap burung perkutut pada dasarnya merupakan bagian dari kearifan lokal yang tumbuh dalam tradisi Kejawen. Bagi sebagian orang, nilai-nilai tersebut tetap dijaga sebagai warisan budaya. Namun, di sisi lain, pendekatan rasional juga semakin berkembang, memandang perkutut sebagai bagian dari kekayaan fauna dan tradisi tanpa harus sepenuhnya dikaitkan dengan unsur gaib.
Dengan segala makna yang melekat, burung perkutut tetap menjadi simbol unik dalam budaya Jawa—menghubungkan manusia dengan tradisi, kepercayaan, dan nilai-nilai leluhur yang terus hidup hingga kini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....