Revitalisasi Bangunan Kolonial Kadugede Jadi Ruang Budaya
- 28 Mar 2026 12:09 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Kuningan - Pemerintah Kabupaten Kuningan berencana merevitalisasi Gedung eks Kewedanan Kadugede yang memiliki nilai historis tinggi dan struktur bangunan yang masih terjaga. Bangunan tersebut akan dikembangkan menjadi Bale Budaya, sekaligus menghidupkan kembali jejak sejarah pemerintahan lama di wilayah tersebut.
Rencana ini mencuat saat Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, meninjau langsung lokasi bersama Wakil Bupati Tuti Andriani, Sekda, serta jajaran kepala OPD dalam kegiatan Gerakan Jumat BERSEPEDA di Alun-alun Desa Kadugede, Jumat, 27 Maret 2026.
“Kuningan saat ini masih kekurangan ruang representatif untuk pagelaran seni dan budaya. Gedung ini sangat potensial, akan kita tata tanpa menghilangkan nilai sejarahnya, sehingga menjadi pusat kebudayaan yang hidup,” ujar Dian.
Ia menegaskan, revitalisasi akan dilakukan secara bertahap dengan tetap mempertahankan keaslian arsitektur bangunan. Penataan juga akan mencakup kawasan sekitar agar lebih tertib, nyaman, dan terintegrasi dengan pengembangan pariwisata.
Menurutnya, pengembangan Bale Budaya akan menjadi bagian dari program Nata Daya, termasuk penataan Alun-alun Desa Kadugede sebagai ruang publik representatif. Penataan meliputi pengelolaan pedagang, peningkatan estetika kawasan, hingga penyediaan fasilitas pendukung wisata.
Dian juga menyoroti potensi besar Kadugede sebagai simpul wisata. Letak geografis yang strategis, kondisi alam yang sejuk, serta kedekatannya dengan sejumlah destinasi unggulan menjadi kelebihan tersendiri.
“Kadugede ini prospektif. Ada Gunung Mayana, berdekatan dengan Waduk Darma, Curug Bangkong hingga kawasan Darmaloka. Kalau ini terintegrasi, wisatawan punya banyak pilihan dan tidak cukup hanya satu hari di Kuningan,” katanya.
Dukungan terhadap rencana tersebut datang dari Kepala Desa Kadugede, Maman. Ia berharap revitalisasi ini mampu mengangkat Kadugede sebagai kawasan cagar budaya sekaligus destinasi wisata edukatif.
“Melalui dukungan Pemerintah Daerah, Desa Kadugede semoga dapat dikembangkan menjadi kawasan cagar budaya yang representatif sekaligus destinasi edukasi dan wisata budaya,” ucapnya mengungkapkan.
Maman menjelaskan, Gedung eks Kewedanan Kadugede memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan sistem pemerintahan masa lalu. Bangunan tersebut dulunya merupakan kantor kewedanan, bahkan diyakini sudah ada sejak masa penjajahan Belanda.
Kewedanan (kawedanan) merupakan tingkatan wilayah administrasi pemerintahan yang berada di bawah kabupaten dan di atas kecamatan, dipimpin oleh seorang wedana yang berperan sebagai koordinator bagi para camat di wilayahnya.
Pada masa Hindia Belanda, kewedanan dikenal sebagai district dan menjadi bagian dari struktur Regentschap (kabupaten) dalam sistem Inlandsch Bestuur atau korps pegawai pribumi. Seorang wedana memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga ketertiban umum, mengawasi sistem irigasi, hingga membantu pemungutan pajak di tingkat lokal.
Struktur kewedanan ini tetap dipertahankan setelah kemerdekaan Indonesia sebelum akhirnya dihapus dalam perkembangan administrasi pemerintahan modern.
Secara historis, wilayah Kewedanan Kadugede termasuk dalam Keresidenan Cirebon, yakni wilayah administratif pada masa kolonial yang mencakup bekas Kesultanan Cirebon. Kawasan ini memiliki keterkaitan sejarah dengan dinamika politik abad ke-17, termasuk masa pemerintahan Pangeran Abdul Karim (Girilaya), serta tekanan dari Amangkurat I terhadap Cirebon dalam konteks kerja sama dengan Belanda.
Peristiwa tersebut berkaitan dengan upaya penumpasan pemberontakan Trunojoyo, yang menjadi bagian dari dinamika besar politik Jawa pada masa itu. Kabupaten Kuningan sendiri pada masa lalu memiliki sembilan wilayah kewedanan, yakni Kuningan, Kramatmulya, Cigugur, Kadugede, Nusaherang, Darma, Ciniru, Hantara, dan Selajambe.
Meski telah mengalami sejumlah renovasi, terutama pada bagian atap, struktur utama Gedung eks Kewedanan Kadugede masih dipertahankan. Tiang-tiang bangunan yang kokoh menjadi ciri khas arsitektur lama yang dijaga sebagai bentuk pelestarian.
Seiring perkembangan waktu, fungsi bangunan tersebut terus berubah, mulai dari kantor kecamatan, kantor PNPM, Hutbun, hingga PLKB. Saat ini, gedung tersebut dikelola oleh BUMDes untuk dimanfaatkan masyarakat.
Selain nilai sejarah bangunan, Desa Kadugede juga memiliki kekayaan budaya yang masih lestari, seperti kesenian goong renteng, tradisi sedekah kampung, hingga berbagai seni pertunjukan seperti pencak silat, rudat, dan sanggar tari. Pada 2014, kawasan ini bahkan pernah menjadi pusat kegiatan budaya saat menjadi tuan rumah lomba genjring tingkat kabupaten.
Dengan rencana revitalisasi ini, Gedung eks Kewedanan Kadugede diharapkan tidak hanya menjadi simbol masa lalu, tetapi juga ruang hidup bagi perkembangan seni, budaya, dan pariwisata di Kabupaten Kuningan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....