Tradisi Gamelan Sekaten di Keraton Kasultanan Kanoman Cirebon

  • 05 Sep 2025 22:35 WIB
  •  Cirebon
Video

KBRN, Cirebon: Keraton Kasultanan Kanoman merupakan salah satu dari empat kesultanan yang ada di Cirebon, berdiri pada tahun 1678 M.

Kebesaran Islam di Jawa bagian barat tidak lepas dari Cirebon.

Adalah Tradisi Sekaten di Keraton Kanoman Cirebon memiliki akar sejarah yang kuat dan erat kaitannya dengan penyebaran agama Islam di Jawa Barat, khususnya oleh Sunan Gunung Jati. Tradisi ini berpusat pada Gamelan Sekaten dan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Nama "Sekaten" sendiri berasal dari kata "syahadatain" atau dua kalimat syahadat. Hal ini menunjukkan bahwa gamelan sekaten pada mulanya digunakan sebagai media dakwah untuk menarik simpati masyarakat agar memeluk agama Islam. Konon, masyarakat yang ingin menyaksikan pertunjukan gamelan sekaten diwajibkan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dahulu.

Gamelan Sekaten di Keraton Kanoman adalah seperangkat alat gamelan pusaka yang usianya diperkirakan sudah ratusan tahun (ada yang menyebutkan mencapai 700 tahun lebih atau sejak abad ke-14 Masehi). Gamelan ini merupakan hadiah dari Kesultanan Demak, yang dibawa ke Cirebon oleh Ratu Wulung Ayu (putri Sunan Gunung Jati).

Gamelan Sekaten digunakan sebagai alat penyebaran ajaran Islam tanpa kekerasan. Bunyi gamelan yang merdu menarik perhatian masyarakat, kemudian disusul dengan penyampaian ajaran agama.

Gamelan Sekaten hanya dikeluarkan dan ditabuh pada waktu-waktu khusus, yaitu saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW (biasanya dari tanggal 7 hingga 12 Mulud). Penabuhan gamelan ini dilakukan di Bangsal Sekaten atau di kompleks Siti Hinggil atau Lemah Duwur yang artinya tempat yang lebih tinggi.

Tradisi Sekaten di Keraton Kanoman adalah perayaan yang menggabungkan unsur spiritual, sejarah, dan budaya, sebagai wujud penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW dan pelestarian warisan para wali.

Rekomendasi Berita