Mengenang Bacharuddin 'Mr. Crack' Jusuf Habibie

  • 11 Sep 2024 09:30 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Cirebon: Prof. Dr.-Ing. Ir. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng, lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Ia berasal dari etnis Bugis, Gorontalo dari garis keturunan ayahnya yang berasal dari Kabila, Gorontalo dan etnis Jawa dari ibunya yang berasal dari Yogyakarta.

Habibie pernah menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia ketiga, menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Sebelum memasuki dunia politik, Habibie dikenal luas sebagai seorang profesor dan ilmuwan dalam teknologi aviasi internasional dan satu-satunya presiden Indonesia hingga saat ini yang berlatarbelakang teknokrat.

Habibie menunjukkan kejeniusannya dengan menemukan teori Crack (crack propagation theory) yang akhirnya diberi nama rumus Faktor Habibie, yaitu rumus yang digunakan untuk menghitung keretakan hingga atom pesawat pesawat terbang. Dengan perhitungan yang tepat, maka materi pesawat dapat lebih kuat dan presisi. Teori ciptaan BJ Habibie ini sangat penting karena saat itu masih banyak kecelakaan pesawat yang diakibatkan karena kegagalan struktural. Rumus inilah yang membuat BJ Habibie memiliki julukan Mr Crack. Kejeniusan Habibie diganjar dengan gelar Profesor Kehormatan atau predikat Guru Besar dari ITB dan penghargaan tinggi Ganesha Praja Manggala.

BJ Habibie sempat merancang proyek pesawat CN-235 bersama para insinyur dari perusahaan Spanyol, CASA, yang prototipenya berhasil mengudara pada akhir 1983. Dengan kecerdasan dan pengalamannya, sosok BJ Habibie akhirnya berhasil membuat pesawat pertama Indonesia, yakni N250 Gatotkaca, pada 1995. Bersama timnya dari Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), BJ Habibie merancang pesawat baling-baling dengan daya angkut sekitar 50 penumpang dan bisa diperbesar hingga 70 penumpang

Pengakuan kejeniusannya dari lembaga Internasional, di antaranta Gesellschaft Luft und Raumfahrt (lembaga penerbangan di Jerman), The Royal Aeronautical Society London Inggris, The Academie Nationale de l’Air et de l’EspacePrancis,The Royal Swedish Academy of Engineering SciencesSwedia, dan The US Academy of EngineeringAmerika Serikat. Habibie bahkan pernah mendapat penghargaan bergengsi yang hampir setara dengan penghargaan Hadiah Nobel, yakni Edward Warner Award dan Award Von Karman.

BJ Habiebie meninggal dunia dalam usia 83 tahun, pada 11 September 2019, pukul 18.05 WIB, karena fungsi organ-organnya telah melemah akibat usia.

Saat ini, Pemerintah Provinsi Gorontalo telah membangun Monumen B.J. Habibie di depan pintu gerbang utama Bandar Udara Djalaluddin, di Kabupaten Gorontalo. Selain itu, masyarakat Provinsi Gorontalo pun sempat mengusulkan nama B.J. Habibie digunakan sebagai nama universitas negeri setempat, menggantikan nama Universitas Negeri Gorontalo yang masih digunakan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....