Budaya Menghilangkan Identitas di Jepang ”Jouhatsu”
- 27 Agt 2024 08:30 WIB
- Cirebon
KBRN, Cirebon: Saat seseorang muak dengan realitas kehidupan yang dijalaninya. Ada kalanya ingin menghilangkan semua jejak diri agar bisa menenangkan jiwa ini. Termasuk yang ada di negara Jepang yang memiliki budaya unik untuk tidak melakukan bunuh diri. Sebagaimana diketahui jika di negara Jepang untuk tingkat percobaan bunuh diri ini tinggi dikarenakan banyak hal. Seperti jam kerja yang melebihi aturan, berhenti dari perusahaan dianggap memalukan dalam budaya Jepang, serta kurangnya dukungan dari keluarga.
Untuk mencegah hal tersebut ada budaya menghilangkan identitas di Jepang yang dinamakan “jouhatsu”. Ini adalah kata dalam bahasa Jepang untuk penguapan. Kata ini juga mengacu pada orang-orang yang sengaja menghilang secara perlahan dan terus menyembunyikan keberadaannya selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.
Melansir dari Wikipedia, Istilah jouhatsu mulai digunakan pada tahun 1960-an. Pada saat itu, istilah ini digunakan dalam konteks seseorang yang memutuskan untuk melarikan diri dari pernikahan yang tidak bahagia daripada menjalani proses perceraian formal.
Selama tahun 1990-an kejatuhan ekonomi Jepang, menyebabkan peningkatan dalam jouhatsu dan bunuh diri karena banyaknya karyawan yang kehilangan pekerjaan dan memiliki hutang yang menumpuk.
Di Jepang, topik jouhatsu merupakan pantangan dalam percakapan biasa, seperti topik bunuh diri. Diperkirakan 100.000 orang Jepang menghilang setiap tahun.Namun, kemungkinan jouhatsu tidak dilaporkan dalam jumlah resmi. Pada tahun 2015, Badan Kepolisian Nasional Jepang telah mencatat 82.000 orang hilang, dan 80.000 orang ditemukan pada akhir tahun.
Asosiasi Dukungan Pencarian Orang Hilang Jepang, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk mendukung keluarga jouhatsu, memperkirakan ratusan ribu orang hilang setiap tahun.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....