Apakah Sama 1 Muharram dengan 1 Suro? Yuk Cari Tau!
- 05 Jul 2024 13:30 WIB
- Cirebon
KBRN, Cirebon: Muharram adalah bulan yang dimaknai bagi umat Muslim di dunia sebagai tahun baru Hijriyah atau tahun baru Islam. Pada kalender bulan pertama, Hijriyah ini menjadi salah satu bulan mulia selain bulan Dzulhijjah, Dzulqaidah, ataupun Rajab. Mengapa demikian? Ya hal tersebut, dikarenakan kalau bulan Muharam memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari kota Mekah ke Madinah pada 622 Masehi, yang menjadi awal mula ditetapkannya 1 Muharam.
Lalu apa kaitan Muharram dengan Suro? Dilansir dari laman idntimes.com, Muharram dan Suro merupakan bulan awal dalam sistem penanggalan Hijriah dan Jawa. Bagi umat Islam, 1 Muharram juga disebut sebagai tahun baru, sedangkan bagi masyarakat Jawa, 1 Suro disebut awal memulainya tahun dalam kalender Jawa. Ada berbagai amalan dan tradisi yang dijalankan dengan makna mendalam. Nah,pertanyaan berikutnya adalah, apakah 1 Muharram itu sama dengan 1 Suro? Sebaiknya Anda pahami terlebih dahulu penjabaran terkait dengan dua bulan tersebut ya.
Jika menilik dari sistem penanggalannya adalah bahwa dalam kalender Jawa, satu Suro merupakan awal penanggalan sedangkan satu Muharram juga merujuk pada hal serupa yaitu, tahun Hijriah. Dimana satu Muharram dalam sistem penanggalan Hijriah menandai waktu penting bagi umat Islam yaitu, hijrahnya Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Peristiwa ini membawa pembaruan dalam kehidupan umat muslim, sehingga menjadi titik permulaan tahun Hijriah. Sementara itu pada momen bersamaan, pihak keraton Jawa memperkenalkan kalender Islam kepada masyarakat Jawa. Oleh karena itu, kemudian satu Muharram juga dikenal sebagai satu Suro, dan ada berbagai perayaan menyambut tahun baru. Kata "suro" sendiri berasal dari bahara Arab "asyura" yang artinya hari kesepuluh di bulan Muharram. Dimana Kedua bulan tersebut sama-sama dianggap sakral baik dalam tradisi Islam maupun tradisi Jawa
Mengutip dari laman liputan6.com, Awal cerita sejarah Penetapan tahun Hijriyah ditandai dengan hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari kota Madinah ke kota Makkah yang kala itu bertepatan pada bulan Rabiul Awal tahun 622 Masehi. Kala itu kalender Islam ini tidak dimulai pada bulan tersebut, melainkan pada bulan Muharram. Lantas apa yang menyebakannya? Pada saat itu terjadi sebuah perdebatan antara para sahabat mengenai bulan awal tahun Hijriyah. Perdebatan itu berakhir pada sebuah kesepakatan bersama bahwa Muharram dijadikan penanggalan awal bulan tahun Hijriyah. Dengan alasan, bahwa bulan Muharram adalah bulan setelah musim haji atau bulan Duzulhijjah, di mana umat Islam dalam keadaan suci karena telah menyempurnakan ibadah rukun Islam yang ke lima. Dan penetapan Muharram sendiri sebagai awal bulan Hijriyah terjadi di era Khalifah Umar bin Khattab. Di masa Umar inilah kalender Hijriyah ditetapkan sebagai penggalan resmi umat Islam.
Sementara itu menurut buku yang berjudul Misteri Bulan Suro Perspektif Islam Jawa, yang ditulis oleh Solikhin, bahwa sistem penanggalan Jawa sendiri adalah bagian yang tak terpisahkan dari budaya Jawa, digunakan sebagai pedoman untuk melaksanakan berbagai kegiatan seperti pernikahan, pembangunan rumah, dan sebagainya. Kalender ini merupakan hasil penyesuaian antara kebudayaan Jawa dan Islam. Sultan Agung menggabungkan elemen dari kalender Hijriah dengan tradisi Jawa untuk menciptakan sistem penanggalan Aboge (Alip Rebo Wage). Dimana dalam sistem itu, bulan Muharram dari kalender Hijriah dinamakan bulan Suro, yang menjadi bulan pertama dalam kalender Jawa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keduanya merujuk pada penanggalan yang sama, meskipun diungkapkan secara berbeda dalam konteks budaya. Yang pasti keduanya baik itu Muharram dan Suro menandai permulaan tahun dan merupakan momen baik untuk refleksi diri, baik dalam konteks Islam maupun budaya masyarakat di tanah Jawa.
Bagi masyarakat muslim dan Jawa di Indonesia, baik satu Suro maupun satu Muharram adalah hari yang dihormati bahkan disakralkan. Dimana keduanya jelas memikiki tradisi yang berbeda dalam menghormati bulan penting tersebut. Walaupun sama-sama disakralkan, tetapi bagi masyarakat Jawa dan umat Islam secara umum memiliki cara yang berbeda dalam penyambutannya. Seperi bagi sebagian masyarakat Jawa yang masih mempercayai bahwa pada malam malam Suro tidak dianjurkan untuk keluar rumah karena akan membawa sial, bahkan dianjurkan untuk tidak menggelar ataupun membuat acara besar seperti hajatan atau pernikahan.
Sedangkan bagi umat Islam secara umum, satu Muharram disambut dengan mengerjakan berbagai kegiatan yang bersifat kebaikan dalam beribadah, seperti melakukan berzikir dan berdoa kepada yang Maha Pencipta dalam menyambut tahun baru Hijriyah.
(Sumber: suara.com, liputan6.com)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....