Benarkah Anxiety Memicu GERD? Ini Faktanya!
- 08 Sep 2026 09:46 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Pernah tidak, lagi cemas tapi yang terasa malah dada panas, mual, dan tenggorokan tidak enak? Banyak orang berpikir ini “penyakit lambung biasa”. Padahal, kecemasan bisa ikut bermain, seperti dilansir dari habittohabit. Yuk, kita luruskan faktanya biar kita tidak terus terjebak di lingkaran The Anxiety Trap.
Anxiety meningkatkan asam lambung. Saat cemas, tubuh masuk mode “siaga”. Hormon stres naik dan produksi asam lambung bisa ikut meningkat. Kalau berlangsung lama, gejala GERD makin sering muncul.
Tegang bikin otot pencernaan kacau. Kecemasan bikin otot-otot, termasuk di saluran cerna, menegang. Gerakan lambung jadi tidak sinkron, asam lebih mudah naik ke kerongkongan.
Napas pendek memperparah refluks. Anxiety sering bikin napas jadi pendek dan cepat. Tekanan di perut berubah, katup lambung melemah, dan refluks jadi lebih gampang terjadi.
Pola makan ikut berantakan. Saat cemas, orang cenderung makan cepat, telat makan, atau memilih makanan pemicu. Kebiasaan ini memperbesar peluang GERD kambuh.
Fokus berlebihan bikin gejala terasa lebih parah. Anxiety membuat kita hiperwaspada pada sensasi tubuh. Gejala ringan terasa berat karena pikiran terus memantau dan memperbesar rasa tidak nyaman.
Lingkaran setan: cemas à GERD à makin cemas. GERD bikin takut kambuh, takut sakit, takut makan. Ketakutan ini memicu anxiety lagi dan siklusnya berulang tanpa disadari.
Mengelola GERD bukan cuma soal obat, tapi juga soal menenangkan sistem saraf. Mulai dari napas yang benar, ritme hidup yang lebih pelan, dan berhenti “berperang” dengan sensasi tubuh. Putus lingkarannya, bukan menambah kepanikan. Karena saat kecemasan turun, tubuh punya ruang untuk pulih.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....