Anak Sering Menggigit Kuku? Kenali Pemicu dan Cara Menghadapinya

  • 05 Sep 2026 20:15 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Kebiasaan menggigit kuku pada anak sering kali muncul sebagai bentuk respon alami terhadap berbagai kondisi emosional yang dialaminya. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), perilaku ini dapat dipicu oleh perasaan stres, kecemasan, ketegangan, kebosanan, kesepian, hingga rasa frustrasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, anak kerap refleks menggigit kuku saat dihadapkan pada situasi yang menantang atau membosankan. Mereka biasanya melakukan kebiasaan ini ketika sedang mengerjakan tugas sekolah yang sulit, menunggu sesuatu, atau saat asyik menonton televisi.

Banyak orang tua yang mengamati secara langsung bagaimana kebiasaan ini muncul saat anak mereka sedang merasa tertekan atau fokus. Salah satunya adalah Dika (38) yang kerap kali menyaksikan anaknya menggigit kuku saat sedang fokus memperhatikan sesuatu.

"Awalnya saya pikir cuma iseng, tapi ternyata jadi kebiasaan buruk. Kalau lagi fokus mendengarkan arahan atau saat dinasihati, dia pasti refleks begitu”. katanya kepada RRI Jumat, 4 September 2026.

Orang tua sebaiknya tidak perlu panik secara berlebihan karena perilaku ini tidak selalu menandakan gangguan psikologis yang berat. Secara medis, kebiasaan tersebut tergolong dalam body-focused repetitive behavior (BFRB), yaitu tindakan berulang yang dilakukan secara otomatis tanpa disadari.

Faktor penyebab munculnya kebiasaan ini juga sangat beragam dan bisa saling berkaitan satu sama lain. Studi dalam International Journal of Women's Dermatology menyebutkan bahwa kebiasaan menggigit kuku dapat dipengaruhi oleh kombinasi faktor kondisi psikologis dan genetik.

Menghadapi anak yang sering menggigit kuku memerlukan pendekatan yang tenang dengan mencari tahu pemicunya, seperti rasa cemas, bosan, atau kondisi kuku yang kasar. Daripada terus memarahi, orang tua bisa membantu mengalihkan perhatian anak melalui aktivitas tangan seperti meremas stress ball serta merawat kukunya agar tetap pendek dan rapi.

Meskipun kebiasaan ini tergolong umum, perhatian medis dari dokter atau ahli kesehatan mental sangat diperlukan jika jari anak mulai terluka, terinfeksi, atau memicu stres berat. Langkah konsultasi ini penting untuk mendeteksi masalah emosional yang mendasari sekaligus menemukan cara penanganan yang paling tepat bagi anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....