Paman Ho dan Tragedi Diplomasi Indonesia

  • 02 Sep 2026 08:30 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Pada 2 September 1969, tokoh revolusi sekaligus pemimpin besar Vietnam, Ho Chi Minh, meninggal dunia. Sepanjang hidupnya, ia pernah mengajak Indonesia untuk menggalang kerja sama dalam melawan cengkeraman kolonialisme di Asia Tenggara.

Dilansir dari Histroria.id, Rabu 2 September 2026, hubungan awal antara Vietnam dan Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan merekam sejarah diplomatik yang cukup dramatis. Surat ajakan kerja sama dari Ho Chi Minh ternyata tidak mendapatkan tanggapan balasan dari jajaran pemimpin Indonesia kala itu.

Ho Chi Minh memandang Indonesia sebagai sekutu yang sangat strategis di kawasan regional. Kemitraan tersebut dinilai penting untuk menghadapi kembalinya kekuatan kolonial Barat setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Utusan resmi serta dokumen diplomatik dari pemimpin Vietnam tersebut berhasil dikirimkan dan diserahkan kepada Mohammad Hatta. Setelah menerima berkas tersebut, Hatta kemudian meneruskannya langsung kepada Perdana Menteri Sjahrir untuk ditindaklanjuti.

Pada masa tersebut, arah politik luar negeri Indonesia di bawah kepemimpinan Sjahrir sedang berfokus pada pendekatan diplomasi. Pemerintah Indonesia memilih memprioritaskan perundingan damai dengan pihak Sekutu dan Belanda dibanding membangun aliansi militer regional.

Akibat dari orientasi politik luar negeri tersebut, surat ajakan aliansi dari Ho Chi Minh akhirnya diabaikan oleh Sjahrir. Keputusan tersebut membuat ide penggalangan kekuatan bersama antara dua negara revolusioner tersebut menjadi bertepuk sebelah tangan.

Meskipun tawaran aliansi awal tersebut tidak membuahkan hasil, sejarah mencatat tingginya semangat solidaritas antar-bangsa Asia yang sedang berjuang. Upaya Ho Chi Minh tetap menjadi bukti nyata hasrat bersama untuk lepas dari belenggu penjajahan.

Peristiwa diplomasi di awal masa kemerdekaan ini memperlihatkan betapa kompleksnya penentuan arah politik luar negeri suatu bangsa. Dinamika hubungan kedua negara ini serupa dengan pergolakan garis diplomasi yang dialami bangsa-bangsa berkembang di era Perang Dingin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....