Maulid Nabi Jadi Momentum Muhasabah dan Perbaikan Akhlak

  • 31 Agt 2026 19:56 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Memasuki bulan Maulid Nabi Muhammad SAW, umat Islam diajak tidak hanya memperbanyak selawat dan mengenang perjuangan Rasulullah, tetapi juga menjadikan akhlaknya sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari. Ustadz Ihsan Tobi, S.Pd., dalam program Mutiara Pagi RRI Cirebon, Kamis 27 Agustus mengatakan kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi harus dibuktikan dengan perilaku.

“Namun demikian, ada satu pertanyaan yang penting yang perlu kita renungkan bersama, yaitu sejauh mana cinta itu benar-benar terlihat dalam kehidupan kita? Sebab mencintai Nabi tidak cukup hanya dengan ucapan aku mencintai Nabi tidak hanya sebatas itu,” katanya.

Menurutnya, seseorang yang mencintai Rasulullah seharusnya berupaya mengikuti keteladanan Nabi, termasuk dalam menjaga ucapan, mengendalikan emosi, memaafkan kesalahan orang lain, serta membantu mereka yang membutuhkan. Ia menegaskan, momentum Maulid dapat menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi terhadap sejauh mana kecintaan kepada Rasulullah telah diterapkan dalam kehidupan nyata.

“Cinta yang sejati selalu melahirkan keinginan untuk selalu mengikutinya. Ketika kita mencintai seseorang dan menjadikannya sebagai teladan, panutan, tentu kita ingin meniru kebaikannya,” katanya.

Ia menjelaskan, salah satu akhlak Rasulullah yang perlu diteladani adalah kelembutan dalam berinteraksi dengan orang lain. Ia mengutip riwayat mengenai akhlak Nabi yang tidak berkata keji, tidak suka membuat keributan, serta tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Menurutnya, sikap tersebut sangat relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika menghadapi pasangan, murid, tetangga, maupun orang lain yang berbuat tidak menyenangkan.

“Menjaga lisan ucapan kita agar tidak menyakiti, menahan diri ketika amarah dan tidak membalas keburukan dengan keburukan dan belajar memaafkan dengan penuh hati yang lapang. Maka akhlak Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ini sangat dekat dengan kehidupan kita,” ujarnya.

Selain kelembutan, umat Islam juga diajak meneladani sifat dermawan Rasulullah. Menurut Ustadz Ihsan, rezeki yang dimiliki seseorang bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga terdapat hak untuk membantu sesama yang sedang membutuhkan.

“Kita harus menunggu, tidak harus menunggu menjadi seorang kaya untuk berderma, tetapi sisihkan sebagian rezeki untuk membantu kepada sesama. Sebab salah satu cara meneladinda akhlak Rasulullah adalah menjadikan tangan kita menjadi ringan untuk memberi dan berbagi,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menghargai orang lain, sebagaimana Rasulullah memberikan perhatian penuh kepada orang yang sedang berbicara dengannya. Sikap sederhana seperti mendengarkan, tersenyum, dan tidak memalingkan wajah dinilai menjadi bagian dari keteladanan akhlak Nabi.

Ustadz Ihsan berharap bulan Maulid tidak berhenti sebagai perayaan seremonial, melainkan menjadi titik awal perubahan perilaku umat Islam. “Jangan hanya menjadikan momentum untuk mengenang kelahiran Rasul, tapi jadikan bulan ini sebagai kesempatan untuk memulai berubah. Mulail dari hal-hal yang sederhana, kurangi ucapan yang menyakiti, kemudian tahan amarah, mudah membantu, belajar untuk memaafkan dan biasakan untuk menghargai orang lain,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....