Cara Menolak Ajakan tanpa Merasa Bersalah
- 27 Agt 2026 15:19 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Menolak ajakan teman, permintaan bantuan rekan kerja, atau undangan keluarga terkadang terasa lebih sulit daripada mengiyakan. Bukan karena tidak ingin menolak, tetapi karena muncul kekhawatiran akan mengecewakan orang lain, dianggap tidak peduli, atau merusak hubungan. Padahal, mengatakan “tidak” merupakan bagian dari kemampuan menetapkan batasan dan menjaga kapasitas diri.
Rasa bersalah setelah menolak juga tidak selalu berarti keputusan yang diambil salah. Dalam psikologi, asertivitas berkaitan dengan kemampuan menyampaikan kebutuhan, pendapat, dan batasan secara jelas sekaligus tetap menghormati orang lain. Sebuah kajian dalam Frontiers in Psychology pada 2025 menempatkan kemampuan mengatakan “tidak” sebagai salah satu keterampilan penting dalam asertivitas sosial.
Salah satu alasan menolak terasa sulit adalah kita sering tidak memiliki kata-kata yang tepat ketika permintaan datang secara tiba-tiba. Penelitian yang diterbitkan dalam Scientific Reports pada 2024 terhadap 535 peserta dalam dua eksperimen menemukan bahwa orang merasa lebih bebas mengambil keputusan ketika mereka diberi kalimat atau skrip konkret untuk menolak, dibandingkan hanya diberi tahu bahwa mereka memiliki hak untuk mengatakan tidak.
Karena itu, tidak perlu membuat penolakan terlalu panjang. Kalimat sederhana seperti “Terima kasih sudah mengajak, tapi kali ini saya tidak bisa ikut” sudah cukup. Jika berkaitan dengan pekerjaan, bisa mengatakan, “Saya belum bisa mengambil tugas tambahan karena ada pekerjaan yang sedang saya selesaikan.” Penolakan yang jelas justru mengurangi ruang untuk salah paham.
Hindari pula kebiasaan terlalu banyak memberikan alasan. Semakin panjang penjelasan, semakin besar kemungkinan kita membuka ruang untuk dinegosiasikan. Jika memang ingin menawarkan alternatif, berikan hanya ketika benar-benar memungkinkan. Misalnya, “Saya tidak bisa datang malam ini, tetapi kita bisa bertemu akhir pekan depan.”
Sebelum menjawab, beri diri sendiri waktu untuk berpikir. Tidak semua ajakan harus dijawab saat itu juga. Kalimat seperti “Biar saya cek jadwal dulu, nanti saya kabari” memberikan kesempatan untuk menilai apakah kita memang ingin dan mampu memenuhi permintaan tersebut. Jeda singkat juga membantu mencegah jawaban “iya” yang diberikan hanya karena merasa tidak enak.
Yang perlu dibedakan adalah menolak seseorang dengan menolak permintaannya. Mengatakan tidak terhadap sebuah ajakan bukan berarti tidak menyukai orang yang mengajak. Kita bisa tetap menghargai hubungan sambil mengakui bahwa waktu, energi, uang, atau perhatian yang dimiliki sedang terbatas. Batasan yang sehat berfokus pada apa yang bersedia kita lakukan, bukan mengatur apa yang harus dilakukan orang lain.
Jika orang tersebut terus mendesak, tidak perlu membuat alasan baru setiap kali. Ulangi keputusan dengan tenang, misalnya, “Saya mengerti, tapi kali ini saya memang tidak bisa.” Prinsip ini sejalan dengan materi tentang asertivitas dari Counseling & Psychological Services (CAPS) Cal Poly Humboldt, California State Polytechnic University, Humboldt, yang menyarankan seseorang untuk tetap singkat ketika menolak, mengulangi penolakan dan alasan yang sama bila diperlukan, serta tidak merasa harus menyelesaikan masalah atau membuat orang lain selalu senang
Rasa bersalah mungkin tetap muncul setelah mengatakan tidak, terutama jika sebelumnya terbiasa selalu mengiyakan permintaan orang lain. Namun, perasaan tersebut tidak harus menjadi tanda bahwa keputusan kita keliru. Mulailah dari penolakan kecil, gunakan kalimat yang jelas, beri jeda sebelum menjawab, dan ingat bahwa menjaga batasan bukan berarti berhenti peduli kepada orang lain. Kemampuan mengatakan “tidak” justru dapat membantu seseorang menggunakan waktu dan energinya untuk hal-hal yang benar-benar menjadi prioritas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....