Aci Kawung, Tepung Tradisional yang Mulai Terlupakan

  • 07 Agt 2026 13:35 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Di tengah gempuran tepung pabrikan serta bahan pangan yang serba instan, nama aci kawung mungkin terasa asing bagi anak muda jaman sekarang, yang kemudian perlahan berbisik makin lirik dalam khazanah kuliner Nusantara.

Tahukan anda? Di tengah mudahnya masyarakat memperoleh berbagai jenis tepung modern, ada salah satu bahan pangan yang telah lama dimanfaatkan masyarakat sunda dan Sebagian wilayah jawa barat sebagai bahan dasar beragam makanan tradisional yaitu tepung aci kawung. Tepung pati yang diekstrak dari batang pohon aren (Arenga pinnata) ini dahulunya merupakan penopang utama berbagai hidangan tradisional, khususnya di tanah Pasundan dan kawasan Jawa Barat.

Dilansir dari unpad repository, Apakah aci kawung itu? Aci kawung terbuat dari pati pohon aren (kawung) berbeda dengan tepung tapioka yang berasal dari singkong, aci kawung menghasilkan tekstur yang lebih bening dan elastis sehingga sejak dahulu banyak digunakan sebagai bahan dasar aneka makanan tradisional. Proses pembuatannya dilakukan dengan menebang batang aren, memarut, memeras, lalu mengendapkan patinya hingga menjadi tepung.

Bagi masyarakat zaman dulu, pohon aren merupakan tanaman yang sangat bermanfaat. Selain menghasilkan nira untuk gula aren dan buah kolang-kaling, batangnya bisa menghasilkan pati yang diolah menjadi aci kawung dan serat hitam yang menutupi bagian pangkal pelapahnya juga bisa dijadikan sapu ijuk dan tali. Pemanfaatan hampir seluruh bagian pohon ini menjadi salah satu bentuk kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dilansir dari laman poltekkesbandung.ac.id, dalam repository poltekkes kemenkes bandung, dituliskan bahwa keberadaan aci kawung semakin jarang ditemui karena masyarakat lebih banyak menggunakan tepung modern yang lebih mudah diperoleh. Akibatnya, masyarakat pengguna aci kawung jadi berkurang. Meski begitu, sejumlah pedagang mulai kembali mengolah aci kawung menjadi berbagai macam kuliner agar warisan pangan lokal ini tetap dikenal.

Pudarnya popularitas aci kawung bukan sekadar hilangnya satu jenis bahan dapur, melainkan juga ancaman terhadap kelestarian resep-resep otentik warisan leluhur. Menjaga keberadaan aci kawung berarti menjaga kelestarian pohon aren, mendukung ekonomi pengrajin pati tradisional di perdesaan, serta merawat keanekaragaman pangan lokal.

Upaya pelestarian dapat dimulai dengan memberikan nilai tambah pada produk olahan aren, mendukung festival kuliner tradisional, serta mendorong generasi muda untuk mengenal kembali kekayaan bahan baku lokal yang bebas dari pengawet dan kaya nilai sejarah ini.

Karena dengan begitu, kita para penerus generasi bukan bukan lagi sekedar hanya menjaga cita rasa tradisional, tetapi juga mempertahankan kekayaan budaya Nusantara agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

(Sumber : HanaNursila_StidAl-biruni)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....