Menakar Bias Gender di Balik Tren Kata Sepakat

  • 24 Jul 2026 15:17 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Media sosial belakangan ini diramaikan oleh fenomena komunikasi baru yang cukup menggelitik sekaligus memicu perdebatan penggunaan kata "sepakat". Tren ini bermula dari potongan video siniar (podcast) Najwa Shihab yang sedang mendiskusikan tantangan riil menjadi seorang perempuan.

Dalam cuplikan tersebut, tanggapan singkat dan defensif dari bintang tamu laki-laki, seperti Ge Pamungkas dan David Nurbianto, memicu reaksi berantai dari netizen. Bagi sebagian besar masyarakat, potongan percakapan tersebut terasa sangat familiar karena mencerminkan situasi nyata yang sering mereka alami dalam hubungan sehari-hari.

Namun, di balik popularitasnya sebagai meme atau bahan candaan digital, tren "sepakat" menyimpan dinamika sosial dan perspektif gender yang sangat berlapis. Fenomena ini memperlihatkan dua sudut pandang yang bertolak belakang.

Di satu sisi, pelabelan kata "sepakat" oleh laki-laki sering dipandang oleh perempuan sebagai bentuk pengabaian emosional. Perempuan merasa suaranya dibungkam secara halus hanya karena mereka dianggap "rumit" saat berusaha mengartikulasikan argumen atau keluh kesah mereka.

Di sisi lain, beberapa pihak menilai kata tersebut digunakan sebagai jalan pintas respons cepat untuk menghindari perdebatan yang lebih panjang, terutama ketika ada pernyataan yang dirasa terlalu menyederhanakan pengalaman hidup laki-laki.

Jika ditelisik lebih dalam, fenomena ini erat kaitannya dengan bagaimana validitas suara perempuan dinilai di ruang publik. Riset dari Cambridge University Press (2024) bertajuk Mitigating Gender Inequality in Women's Voices menemukan fakta pahit bahwa dalam ruang diskusi publik, opini perempuan cenderung mengalami bias yang lebih tinggi dan kurang ditoleransi dibandingkan suara laki-laki.

Di media sosial, ketika perempuan berbicara mengenai politik, karir, atau isu sosial, mereka lebih rentan mendapatkan komentar meremehkan, serangan personal, hingga ujaran kebencian (hate speech). Sebaliknya, laki-laki yang membahas topik serupa jauh lebih mudah dianggap kredibel atau wajar. Hal ini membuktikan bahwa gender sering kali mendikte penilaian sebuah opini bukan berpatokan pada esensi isinya, melainkan dari siapa yang menyampaikannya.

Budaya patriarki telah lama menempatkan laki-laki pada posisi dominan dalam pengambilan keputusan, sementara perempuan diarahkan untuk selalu patuh demi menjaga harmoni sosial. Pola diskriminatif ini diwariskan turun-temurun melalui keluarga, lingkungan, bahkan candaan sehari-hari.

Konsekuensinya, stigma kuno seperti "perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya ke dapur juga" terus tereproduksi. Ketiadaan kekuatan ekonomi membuat hak perempuan untuk berbicara atau mengambil keputusan menjadi terkikis.

Di era digital, pembungkaman ini bertransformasi menjadi bentuk yang lebih halus: sebuah pengalaman atau keluhan serius dari perempuan kerap direspons secara simbolis dengan kata "sepakat" tanpa benar-benar didengar atau ditanggapi secara mendalam.

Akan tetapi, kritik terhadap sistem patriarki ini tidak boleh disalahartikan sebagai bentuk kebencian terhadap individu laki-laki. Ironisnya, norma maskulinitas dominan yang menuntut laki-laki untuk selalu kuat dan menekan emosi juga merugikan kesehatan mental mereka sendiri.

Dilansir dari laman girlupui-id.medium.com, data dari Lancet Public Health (2021) menunjukkan tingginya angka bunuh diri dan penyalahgunaan zat akibat beban ekspektasi sosial yang sulit dipenuhi oleh laki-laki. Laki-laki yang menunjukkan kerapuhan atau tidak mampu menjadi pencari nafkah utama sering kali dicap gagal. Oleh sebab itu, kata "sepakat" sering kali muncul akibat keterbatasan literasi emosional kemampuan mengenali dan mengungkapkan apa yang dirasakan yang jarang diajarkan secara aktif pada laki-laki.

Berdasarkan studi dari Movember Institute (2025), keterbatasan ini membuat laki-laki memilih jalan pintas berupa penghindaran diskusi ketika dihadapkan pada topik gender yang membuat mereka tidak nyaman. Pintu untuk dialog yang lebih sehat hanya akan terbuka jika kedua belah pihak bersedia menyingkirkan ego, membangun literasi emosional, dan benar-benar mendengarkan perspektif satu sama lain sebelum buru-buru bereaksi.

(Sumber : Rara Iftinannaurah_UNSOED)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....