Filosofi Kursi Shaker

  • 23 Jun 2026 10:08 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Sastrawan Thomas Merton pernah memuji keindahan kursi kayu Shaker sebagai sebuah mahakarya yang lahir dari tangan pengrajin yang percaya bahwa malaikat bisa datang dan mendudukinya. Perabot elegan tersebut diciptakan oleh sekte keagamaan asal Manchester, Inggris, bernama United Society of Believers in Christ’s Second Appearing yang bermigrasi ke Amerika Serikat bersama pemimpin mereka, Mother Ann Lee.

Dilansir dari Nationalgeographic.com, Selasa, 23 Juni 2026, kelompok (sekte) yang dijuluki "Shakers" karena tarian ibadah mereka yang ekspresif ini berkomitmen penuh membangun komunitas utopia yang berfokus pada kesempurnaan hidup, kerja keras, dan doa. Sepanjang sejarahnya, mereka berhasil mendirikan sekitar 20 permukiman mandiri yang menerapkan aturan ketat berupa selibat, kepatuhan total kepada penatua, serta pengakuan dosa di depan publik.

Sekte ini sangat menjunjung tinggi prinsip kesetaraan gender dan membuka pintu bagi semua orang tanpa memandang latar belakang ras termasuk warga kulit hitam, masyarakat adat, maupun kaum Yahudi. Karena anggotanya tidak melakukan aktivitas seksual, komunitas ini mengadopsi anak-anak yatim piatu serta menjadi tempat perlindungan yang aman bagi para janda maupun keluarga miskin.

Kehidupan komunal yang menuntut kerendahan hati ekstrem ini membuat anggota yang gagal mematuhi aturan akan memilih pergi atau dikeluarkan dari kelompok. Sesuai ajaran Mother Ann untuk menyerahkan tangan pada pekerjaan dan hati kepada Tuhan, warga Shaker memproduksi beraneka barang kerajinan tangan mulai dari sapu, benih, hingga kursi kayu ikonis.

Jerry Grant selaku Direktur Perpustakaan dan Koleksi di Shaker Museum New York menilai desain kursi Shaker memiliki keseimbangan sempurna antara keanggunan estetika dan fungsi praktis yang membebaskan penggunanya dari rasa sesak. Namun, Robert Emlen selaku mantan kurator senior dari Brown University menyatakan bahwa apresiasi tinggi terhadap keindahan fisik perabot tersebut justru datang dari masyarakat luar yang enggan menjalani disiplin hidup sekte Shaker.

Komersialisasi benda spiritual ini sempat memicu rekor penjualan sebuah kursi putar Shaker senilai 88.000 dolar AS pada tahun 1987 silam. Fenomena tersebut memicu kegusaran salah satu tokoh penting Shaker, Sister Mildred Barker, yang menegaskan bahwa dirinya tidak ingin warisan spiritualitas komunitasnya hanya dikenang masyarakat dalam wujud sebatang kursi kayu.

Sister Mildred Barker yang wafat pada tahun 1990 merupakan seorang teolog, pemimpin spiritual, sekaligus musisi yang mendedikasikan hidupnya untuk merekam album lagu tradisional bertajuk Early Shaker Spirituals. Desa tempat tinggalnya di Sabbathday Lake, Maine, kini tercatat sebagai satu-satunya permukiman Shaker yang masih aktif beroperasi di dunia sejak masa kejayaan sekte tersebut pada abad ke-19.

Meskipun komunitas ini pernah memiliki ribuan pengikut, saat ini Sabbathday Lake hanya menyisakan tiga orang anggota aktif yang mengelola pertanian kecil, museum, dan toko kerajinan. Walau kesempurnaan hidup yang mereka cari terasa mustahil dicapai oleh manusia, sisa keindahan dari visi utopia mereka masih terpancar jelas lewat keanggunan kursi Shaker.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....