Petrichor: Nama Ilmiah Aroma Tanah yang Muncul setelah Hujan
- 16 Jun 2026 09:31 WIB
- Cirebon
Poin Utama
- Petrichor: Nama Ilmiah Aroma Tanah yang Muncul Setelah Hujan
RRI.CO.ID, Cirebon - Bagi banyak orang, aroma tanah yang tercium setelah hujan merupakan salah satu bau paling menenangkan. Wangi khas yang muncul ketika tetes hujan pertama membasahi tanah kering sering kali membangkitkan kenangan masa kecil, suasana pedesaan, atau rasa damai setelah cuaca panas. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa aroma tersebut memiliki nama ilmiah, yaitu petrichor.
Istilah petrichor pertama kali diperkenalkan pada tahun 1964 oleh dua ilmuwan Australia, Isabel Joy Bear dan Richard G. Thomas. Mereka menggunakan kata yang berasal dari bahasa Yunani, yakni petra yang berarti batu dan ichor yang berarti cairan yang mengalir dalam tubuh para dewa dalam mitologi Yunani.
Dalam penelitian mereka yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature, kedua ilmuwan tersebut menjelaskan bahwa petrichor muncul akibat kombinasi berbagai senyawa yang dilepaskan dari tanah, batuan, dan tumbuhan ketika terkena air hujan. Salah satu komponen utama petrichor adalah senyawa bernama geosmin, yang diproduksi oleh mikroorganisme tanah, khususnya bakteri dari kelompok actinomycetes.
Ketika tanah mengering, mikroorganisme ini menghasilkan spora yang mengandung geosmin. Saat hujan turun, spora tersebut terangkat ke udara dan terbawa oleh percikan air sehingga aromanya dapat tercium manusia.
Menurut peneliti dari Massachusetts Institute of Technology, manusia memiliki sensitivitas yang sangat tinggi terhadap geosmin. Bahkan dalam konsentrasi yang sangat kecil, hidung manusia mampu mendeteksi keberadaan senyawa tersebut.
Fenomena ini menarik perhatian para ilmuwan karena menunjukkan betapa tajamnya indra penciuman manusia terhadap aroma tertentu yang berkaitan dengan alam. Selain geosmin, petrichor juga dipengaruhi oleh minyak alami yang dihasilkan tumbuhan selama periode kering.
Minyak tersebut menempel pada permukaan batu dan tanah. Ketika hujan datang, senyawa tersebut ikut terangkat ke udara dan bercampur dengan geosmin sehingga menciptakan aroma yang khas. Profesor mikrobiologi Keith Chater menjelaskan bahwa geosmin sebenarnya merupakan produk alami yang telah ada selama jutaan tahun.
Aroma tersebut bahkan dipercaya membantu sejumlah organisme mengenali keberadaan sumber air. Dari sisi psikologi, petrichor juga memiliki daya tarik tersendiri.
Menurut sejumlah peneliti perilaku manusia, aroma yang berhubungan dengan alam sering memicu rasa nyaman karena berkaitan dengan pengalaman positif dan kebutuhan dasar manusia terhadap lingkungan yang mendukung kehidupan. Tak heran jika banyak orang mengaku merasa lebih rileks ketika mencium aroma tanah setelah hujan.
Sensasi tersebut bukan hanya persoalan bau semata, melainkan juga berkaitan dengan memori dan emosi yang tersimpan dalam otak. Di Indonesia, terutama di daerah pedesaan dan kawasan pertanian, petrichor menjadi aroma yang akrab bagi masyarakat.
Meski sering dirasakan, sebagian besar orang belum mengetahui bahwa fenomena tersebut memiliki nama khusus dan telah menjadi objek penelitian ilmiah selama puluhan tahun. Petrichor membuktikan bahwa hal-hal sederhana di sekitar manusia ternyata menyimpan penjelasan ilmiah yang menarik.
Aroma yang selama ini dianggap biasa ternyata merupakan hasil interaksi kompleks antara hujan, mikroorganisme, tumbuhan, dan lingkungan alam. Pada akhirnya, setiap kali hujan pertama turun setelah musim kemarau, masyarakat tidak hanya menikmati kesejukan udara, tetapi juga merasakan petrichor, sebuah fenomena alam yang mempertemukan sains, alam, dan pengalaman manusia dalam satu aroma yang khas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....