Kehangatan Nostalgia dalam Geliat Setrika Arang Tempo Dulu

  • 17 Mei 2026 19:55 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Sebelum teknologi listrik mengambil alih seluruh peralatan rumah tangga, masyarakat Indonesia mengandalkan setrika arang sebagai alat pelicin pakaian utama. Alat penatu tradisional ini memanfaatkan bara api sebagai sumber panas untuk merapikan lipatan kain yang kusut.

Sesuai dengan namanya, perangkat domestik ikonik ini sepenuhnya memanfaatkan arang kayu sebagai bahan bakar untuk menghasilkan hawa panas. Pengguna harus membakar arang secara terpisah terlebih dahulu sebelum memasukkannya ke dalam rongga setrikaan.

Bahan dasar pembuat alat pelicin pakaian kuno ini umumnya menggunakan logam kuningan atau besi padat yang sangat tebal. Bobotnya yang sengaja dibuat berat justru membantu mempermudah proses penghalusan pakaian tanpa perlu ditekan terlalu kuat.

Keunikan mencolok dari alat pemanas baju ini terletak pada bagian penutupnya yang dilengkapi pengunci berbentuk kepala ayam jago. Selain berfungsi estetis sebagai ornamen hiasan, kepala ayam tersebut bertindak sebagai poros pasak penutup yang sangat aman.

Pada bagian samping badan alat, terdapat deretan lubang udara berukuran kecil yang berfungsi menjaga sirkulasi oksigen di dalam. Pasokan oksigen yang stabil dari lubang-lubang tersebut memastikan bara arang di dalam perut logam tetap menyala.

Proses menyetrika pakaian dengan perangkat manual ini menuntut keterampilan khusus serta tingkat kesabaran yang luar biasa tinggi. Jika suhu logam dirasa mulai menurun, pengguna harus mengayun-ayunkan setrikaan agar bara arang kembali membara dengan optimal.

Ketelitian ekstra sangat dibutuhkan selama proses pengerjaan agar abu arang tidak keluar merusak kain pakaian yang sedang dirapikan. Kelalaian sedikit saja saat menggerakkan alat bisa berakibat fatal berupa noda hitam atau lubang terbakar pada kain.

Kini, posisi alat pelicin pakaian tradisional tersebut telah sepenuhnya digantikan oleh teknologi setrika listrik yang jauh lebih praktis. Meski tidak lagi digunakan untuk urusan domestik, keberadaannya tetap dihargai sebagai bagian penting dari memori kolektif masyarakat.

Saat ini, benda antik tersebut bertransformasi menjadi barang dekorasi bernilai seni tinggi yang diburu oleh para kolektor. Kehadirannya di sudut ruangan seolah menjadi mesin waktu yang menceritakan kembali kisah perjuangan hidup zaman dahulu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....