Mengenal Ikan Sapu-Sapu: Invasif, Cepat Berkembang, dan Merusak Habitat

  • 15 Apr 2026 18:55 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Belakangan ini, perburuan ikan sapu-sapu ramai terjadi di berbagai wilayah, terutama di Jakarta. Fenomena ini bahkan menarik perhatian pemerintah daerah, termasuk Gubernur Pramono Anung yang memberi instruksi langsung pada para wali kota di wilayah DKI Jakarta untuk membasmi ikan sapu-sapu.

Perhatian serius yang diberikan Pemerintah DKI Jakarta ini karena berkaitan langsung dengan kondisi ekosistem perairan dan kebersihan sungai di Jakarta. Pakar ikan dan konservasi ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Dr Charles PH Simanjuntak menjelaskan, ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) merupakan ikan asing introduksi yang dikenal sebagai spesies invasif dengan kemampuan reproduksi sangat ttinggi

"Satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina. Ikan jantan akan menjaga telur di dalam liang yang mereka gali sampai menetas sehingga sintasan (persentase kelangsungan hidup) bisa mencapai lebih dari 90 persen," jelas Charles dalam siaran laman IPB, dikutip Rabu, 15 April 2026.

Ikan ini berasal dari Amerika Selatan, namun menyebar luas ke berbagai negara, termasuk Indonesia, akibat pelepasan dari akuarium ke lingkungan alami. Karena sifatnya yang adaptif dan tahan terhadap kondisi air yang buruk, ikan ini dengan cepat berkembang biak dan mendominasi habitat baru.

Ikan ini bersaing dengan ikan asli dalam mendapatkan makanan dan tempat hidup. Selain itu, ikan sapu-sapu juga dikenal merusak dasar perairan dengan kebiasaannya menggali dan menempel di berbagai permukaan, yang dapat merusak habitat ikan lain serta mempercepat erosi tepian sungai.

Dari sisi ekonomi, ikan sapu-sapu juga dianggap tidak memiliki nilai jual tinggi dibandingkan ikan konsumsi lainnya. Bahkan, banyak nelayan mengeluhkan bahwa ikan ini justru merusak jaring dan mengurangi hasil tangkapan ikan bernilai ekonomi.

Namun, belakangan ini muncul tren pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan konsumsi. Beberapa komunitas mengolah ikan ini menjadi berbagai hidangan, seperti digoreng atau dijadikan abon.

Sayangnya, keamanan konsumsi ikan sapu-sapu masih menjadi perdebatan karena hidup di perairan yang seringkali tercemar, sehingga berpotensi mengandung logam berat atau zat berbahaya lainnya. Beberapa ahli menyebutkan bahwa ikan ini tetap dapat dikonsumsi selama berasal dari perairan yang relatif bersih dan dimasak dengan suhu tinggi hingga matang sempurna.

Meskipun demikian praktik pembunuhan massal ikan sapu-sapu tetap menimbulkan kekhawatiran. Jika dilakukan tanpa kontrol, tindakan ini berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem secara lebih luas.

Diperlukan pendekatan yang lebih bijak dan terencana, seperti pengendalian populasi yang ramah lingkungan serta pemanfaatan ikan secara berkelanjutan. Edukasi kepada masyarakat juga menjadi kunci agar penanganan spesies invasif ini tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....