Ini Alasan Ilmiah Mengapa Induk Hewan Menolak Anaknya
- 07 Mar 2026 14:45 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Seekor anak monyet bernama Punch belakangan ini viral di media sosial karena di tolak oleh induk dan kawanannya. Bayi monyet yang lahir pada Juli 2025 di di Kebun Binatang Kota Ichikawa, Prefektur Chiba, Jepang ini menarik simpati banyak netizen setelah foto dan video yang menunjukkan dia sedang memeluk dan menenteng boneka orangutan viral.
Banyak netizen menyayangkan dan penasaran kenapa bayi monyet macaca ini ditolak oleh induknya. Periset Pusat Riset Veteriner Badan Riset dan Inovasi Nasional, drh. Fitrine Ekawasti mengatakan bahwa ini merupakan fenomena biologis kompleks.
“Penolakan induk terhadap anak merupakan fenomena biologis kompleks yang tidak dapat dinilai hanya dari sudut pandang emosional manusia,” kata Fitrine melalui unggahan di akun Instagram BRIN Indonesia, Sabtu, 7 Maret 2026.
Adapun beberapa faktor yang menyebabkan induk tersebut menolak anaknya bisa bersumber dari faktor biologis dan faktor lingkungan yang kompleks. Berikut beberapa faktor penyebab induk hewan menolak anaknya.
1. Faktor biologis dan kesehatan: ketidakseimbangan hormon, gangguan kesehatan induk, viabilitas anak, serta gangguan bonding awal (sensitive period).
2. Faktor pengalaman dan status reproduksi: perbedaan pengalaman antara induk yang baru pertama kali melahirkan (primipara) dan yang sudah berpengalaman (multipara).
3. Faktor sosial (pada primata sosial seperti makaka): hierarki kelompok dan tekanan sosial dari individu dominan.
4. Faktor lingkungan: gangguan habitat, kebisingan, serta intervensi manusia.
Di sisi lain dalam perspektif evolusi induk bisa berhenti merawat anak yang peluang hidupnya rendah untuk menghemat energi. Jadi, penolakan induk bukan berarti ‘tidak sayang’, melainkan respons biologis alami atau akibat gangguan tertentu.
Merespon fenomena ini BRIN menyarankan agar manusia tidak ikut campur atau melakukan intervensi terhadap hewan. Intervensi boleh dilakukan hanya dalam kondisi tertentu seperti:
a. Terjadi di lingkungan terkontrol (kebun binatang, penangkaran, pusat rehabilitasi).
b. Anak berada dalam kondisi medis kritis dan berisiko mati tanpa bantuan.
c. Ada kepentingan konservasi, terutama pada spesies dengan populasi terbatas.
d. Terjadi kekerasan atau pengabaian berat yang menyebabkan penderitaan berkepanjangan.
Namun, jika hal tersebut terjadi di habitat liar dan induk masih berada di sekitar anak sehingga masih ada peluang rekonsiliasi atau bonding secara alami maka manusia sebaiknya membiarkan proses ini berlangsung.
Intervensi dari manusia justru dapat mengganggu struktur sosial satwa, dan pendekatan terbaik adalah dengan observasi tanpa banyak intervensi.
“Karena itu, keputusan yang diambil perlu mempertimbangkan kesejahteraan hewan, ilmu pengetahuan, dan etika konservasi. Kesehatan hewan jadi pegangan, konservasi lestari jadi tujuan, intervensi berpadu pengetahuan, agar alam terjaga sepanjang zaman” kata drh. Fitrine.