Tanaman Endemik di Indonesia yang Masih Bertahan

  • 28 Feb 2026 21:12 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Indonesia bukan hanya "paru-paru dunia", tetapi juga laboratorium raksasa bagi flora unik. Berkat posisi geografisnya di garis khatulistiwa, Indonesia memiliki ribuan spesies tanaman yang tidak dapat ditemukan di tempat lain secara alami. Meski beberapa berada di ambang kepunahan, upaya konservasi di berbagai wilayah berhasil menjaga keberadaan tanaman-tanaman eksotis ini agar tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang.

Dilansir dari inilah.com Selasa, 10 Februari 2026 Berikut adalah beberapa jenis tanaman endemik di Indonesia yang masih bisa ditemukan di beberapa wilayah:

  1. Matoa (Pometia Pinnata)

Matoa yang memiliki nama latin Pometia Pinnata merupakan tumbuhan endemik asli Indonesia yang berasal dari Papua. Secara alami, tanaman ini tumbuh di tanah datar bertekstur liat. Adapun nama lain Matoa ini adalah Kasai (Kalimantan Utara dan Malaysia), Malugai (Filipina) dan Taun (Papuan Nugini). Ciri khas tumbuhan Matoa memiliki ukuran sedang dan daun rimbun. Tumbuhan ini juga bisa berbuah setelah usia empat hingga lima tahun. Adapun masa panen Matoa terjadi pada bulan Oktober hingga Desember. Buah ini dapat dimakan dan memiliki cita rasa, seperti buah Leci dan Kelengkeng. Bahkan buah Matoa memberikan banyak manfaat kesehatan mulai dari melindungi tubuh dari radikal bebas, mengendalikan gula darah, melawan penyakit infeksi, hingga menurunkan tekanan darah.

  1. Anggrek Hitam (Coelogyne Pandurata)

Anggrek hitam merupakan flora endemik Indonesia yang amat langka.Tanaman ini memiliki nama latin latin Coelogyne Pandurata dan hanya dapat ditemui di daerah tertentu di Pulau Kalimantan dan Papua. Perbedaan anggrek hitam Kalimantan dengan Papua terletak di bagian warna kelopak bunganya. Jika anggrek Kalimantan memiliki warna hijau dengan mahkota berwarna merah, anggrek hitam Papua memiliki mahkota bunga berwarna hitam dan putik berwarna cerah.Tanaman yang memiliki bentuk yang sangat indah ini ternyata memiliki khasiat untuk kesehatan tubuh.

  1. Bunga Edelweiss Jawa (Anaphalis javanica)

Edelweiss Jawa adalah bunga yang hanya bisa tumbuh di dataran tinggi seperti pegunungan. Bunga endemik asli Indonesia ini bisa dijumpai di beberapa gunung, seperti Gunung Gede, Pangrango, Papandayan, dan Rinjani. Selain memiliki nama latin Anaphalis javanica, tanaman ini juga disebut sebagai bunga abadi yang memiliki khasiat sebagai obat penyembuh. Bunga Edelweiss memiliki ekstrak yang kaya akan antioksidan dan dapat menyembuhkan beberapa macam penyakit.

4. Daun Payung (Johannestijsmania Altifrons)

Daun payung dapat ditemukan di Pulau Sumatera tepatnya di Sumatera Utara. Selain di Indonesia, tanaman ini juga ditemukan di Thailand dan Malaysia. Seperti namanya, daun payung memiliki daun besar menyerupai bentuk payung. Strukturnya yang kuat membuat tanaman ini sering dijadikan sebagai bahan pembuatan atap rumah oleh masyarakat Sumatera karena efektif menahan air hujan. Daun payung yang memiliki nama latin Johannestijsmania altifrons ini, pertama kali ditemukan oleh seorang profesor botani asal Belanda bernama Teijsman atau Elias Teymann Johannes di pedalaman Sumatera pada awal abad ke-19. Adapun ciri khas tanaman ini memiliki sisi yang berduri dengan bentuk lebar di tengah dan meruncing di bagian pangkal dan ujung.

  1. Bunga Bangkai (Amorphophallus)

Bunga Bangkai termasuk salah satu tumbuhan endemik asli Indonesia yang ditemukan di Pulau Sumatera. Sayangnya, jumlah bunga bangkai saat ini sudah semakin menipis. Untuk menjaga kelestariannya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan memasukkan bunga endemik ini sebagai tumbuhan yang dilindungi. Dalam bahasa latin, Bunga Bangkai disebut Amorphophallus yang berasal dari bahasa Yunani Kuno. Di seluruh dunia, tersebar 170 jenis bunga bangkai dan sekitar 25 jenis di antaranya dapat ditemui di Indonesia; Delapan jenis di Sumatera, enam di Jawa, tiga di Kalimantan, dan satu di Sulawesi. Meski memiliki bentuk yang sangat cantik, namun sesuai namanya bunga ini dapat mengeluarkan aroma bangkai yang menyengat. Menariknya, bunga yang dapat tumbuh hingga usia 40 tahun ini mekar tujuh hingga sembilan tahun sekali dengan waktu mekar satu hingga dua hari saja.

  1. Mangga Kasturi

Mangga kasturi merupakan tanaman endemik di Indonesia yang berasal dari pulau Kalimantan. Berbeda dengan mangga pada umumnya, mangga kasturi memiliki ukuran yang lebih kecil dengan bentuk lonjong. Keunikan mangga kasturi ini adalah kemampuan bertahan hidupnya hingga puluhan tahun. Sayangnya, mangga jenis ini tidak dapat ditemukan di alam liar karena pembukaan lahan secara besar-besaran dan deforestasi yang menyebabkan populasinya sangat berkurang. Diketahui, pohon mangga kasturi baru bisa berbuah setelah usianya sepuluh tahun.

  1. Bambu Manggong

Bambu Manggong dapat ditemukan di Banyuwangi, Jawa Timur. Flora endemik ini masuk dalam spesies langka dan dijaga dengan baik di Taman Alas Purwo, Jawa Timur. Bambu Manggong memiliki banyak fungsi, antara lain sebagai bahan kerajinan tangan, hingga bahan bangunan. Ketika bambu ini ditanam, tanah yang ditanaminya akan menjadi subur karena mengandung banyak nitrogen. Selain itu, bambu dapat berperan solusi atas ancaman lingkungan dan dampak perubahan iklim secara ekologis. Bambu berperan penting dalam restorasi lahan melalui daya adaptasi jenis tanaman, pendekatan landskap, dan keberadaan ekosistem berkelanjutan.

  1. Rafflesia Arnoldii

Bunga Rafflesia Arnoldii yang juga dikenal sebagai Padma Raksasa ini menjadi bunga paling bau di dunia, sehingga memiliki julukan bunga bangkai. Bunga endemik dari Sumatera ini adalah tanaman parasit tanpa daun, akar, dan batang yang terlihat. Untuk dapat hidup dan mendapatkan air serta nutrisi, ia menempel pada tanaman inang. Bunga ini ditemukan pertama kali pada 1818 di hutan Sumatera oleh pemandu yang bekerja dengan Dr Joseph Arnoldy yang sedang mengikuti ekspedisi Thomas Stanford Raffles. Sehingga didapatkan dari nama gabungan antara Raffles dan Arnold.

  1. Ki Leho Beureum (Saurauia Cauliflora)

Ki Leho Beureum merupakan tanaman endemik asal Pulau Jawa yang dimasukkan dalam IUCN Ren List Vulnarable atau daftar status kelangkaan untuk spesies yang terancam punah. Memiliki nama ilmiah Saurauia Cauliflora, tumbuhan ini biasanya ditemukan tak jauh dari sungai. Ki Leho Beureum memiliki tinggi 10 meter dengan daun yang memanjang lebar dan batang berbulu halus. Tumbuhan endemik ini juga dikenal sebagai tanaman herbal dan memiliki banyak manfaat, seperti menjaga imunitas tubuh, mengontrol kolesterol, meningkatkan kinerja otak dan memelihara kesehatan jantung.

  1. Sawo Kecik (Sapotaceace)

Sawo Kecik atau sering disebut dengan Sawo Jawa (Sapotaceace) merupakan tanaman yang kini mulai jarang ditemukan. Di daerah Yogyakarta, Sawo Kecik sering dijadikan sebagai tanda bahwa orang yang menanamnya adalah seorang keluarga dari keraton. Ciri khas pohon sawo ini yaitu tinggi yang dapat mencapai hingga 25 meter dengan diameter batang sekitar satu meter. Daunnya bergerombol dan ujung batangnya berwarna hijau. Adapun karakteristik buahnya memiliki bentuk bulat berukuran kecil dengan panjang sekitar 3,7 cm. Saat matang, buahnya akan berubah warna menjadi orange kemerahan dengan rasa manis. Menariknya, mengonsumsi sawo kecik diyakini dapat membuat aroma tubuh menjadi lebih harum secara alami.

  1. Pohon Cendana (Santalum album L)

Pohon Cendana atau nama latinnya Santalum album L dikenal dalam dalam dunia perdagangan dengan nama sandalwood. Tumbuhan endemik ini berasal dari provinsi Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Saat ini, Pohon Cendana telah tersebar ke beberapa wilayah di Indonesia seperti Bondowoso dan Jember (Jawa Timur), Gunung Kidul (D.I Yogyakarta), Bali, Sulawesi dan Maluku. Pohon Cendana dapat dimanfaatkan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, campuran parfum, dan aroma terapi. Selain itu, kayu cendana juga dimanfaatkan untuk bahan bangunan, mebel atau furniture, hingga kerajinan tangan. Dari segi kesehatan, kayu cendana dipercaya bermanfaat untuk menurunkan kolesterol, mengobati sakit kepala, menyembuhkan luka, menjaga kesehatan kulit, dan mencegah tukak lambung. Manfaat-manfaat kesehatan tersebut diperoleh berkat kandungan fitokimia seperti glikosida, minyak atsiri, flavonoid dan senyawa polifenol yang dikenal dengan sifat antioksidan, yang ada dalam Pohon Cendana.

  1. Kayu Hitam

Kayu hitam adalah jenis pohon yang memiliki batang berwarna coklat gelap dan terkadang hitam belang-belang kemerahan. Tumbuhan yang berasal dari Sulawesi ini memiliki kualitas kayu yang baik dan bisa digunakan untuk membuat mebel, patung, ukiran, hingga alat musik. Di luar negeri, kayu hitam Sulawesi dikenal dengan nama black ebony dan dijual dengan harga tinggi. Menariknya, bagi masyarakat Sulawesi kehadiran kayu hitam ini memiliki nilai tradisi dan kepercayaan kuno. Konon, kayu hitam yang memiliki warna hitam gelap dan pekat ada kaitannya dengan pertempuran dari kisah Ramayana. Pada saat itu, Hanoman diketahui tengah membakar Kota Lanka sehingga menghanguskan pohon itu. Kepercayaan lainnya, beberapa orang dahulu menganggap kayu hitam ini menjadi sejenis jimat yang dapat melindunginya. Sampai saat ini masih ada beberapa kelompok masyarakat yang memakai aksesoris yang terbuat dari kayu hitam sebagai perlindungan diri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....